Rupiah Melemah, Video Habibie Saat Krisis 98 Kembali Viral
Melemahnya nilai tukar Rupiah hingga menembus kisaran Rp17.400–Rp17.500 per dolar AS kembali memunculkan kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi global. Situasi tersebut juga membuat sejumlah tayangan lama tentang krisis moneter 1997–1998 kembali ramai diperbincangkan di media sosial.
Salah satu yang kembali viral adalah cuplikan wawancara Presiden ke-3 RI, B. J. Habibie, dalam program Mata Najwa. Dalam tayangan itu, Habibie menceritakan beratnya memimpin Indonesia di tengah keterpurukan ekonomi nasional usai krisis moneter melanda Asia.
Habibie mengungkapkan bahwa saat itu pemerintah menghadapi tekanan luar biasa. Inflasi melonjak, sektor perbankan terguncang, hingga nilai tukar Rupiah terjun bebas terhadap dolar Amerika Serikat.
Dalam kondisi tersebut, Habibie mengaku harus mengambil keputusan sulit demi menyelamatkan ekonomi rakyat, termasuk menghentikan proyek pesawat nasional N250 yang selama ini menjadi kebanggaannya.
Keputusan itu disebut bukan hal mudah karena proyek N250 merupakan simbol kemajuan teknologi Indonesia. Namun menurut Habibie, kepentingan negara dan stabilitas ekonomi masyarakat harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun ambisi industri.
“Tugas seorang pemimpin adalah menyelamatkan rakyat terlebih dahulu,” ujar Habibie dalam tayangan yang kembali beredar di media sosial.
Habibie juga menjelaskan bahwa pemerintah saat itu fokus memulihkan kepercayaan pasar melalui stabilisasi ekonomi, reformasi sektor keuangan, serta pengendalian inflasi yang sempat berada di level sangat tinggi.
Seiring waktu, berbagai langkah penyesuaian ekonomi mulai menunjukkan hasil. Nilai tukar Rupiah perlahan menguat dan kondisi inflasi mulai terkendali setelah sebelumnya menekan daya beli masyarakat.
Viralnya kembali tayangan tersebut dinilai banyak warganet sebagai pengingat bahwa Indonesia pernah melewati masa krisis yang jauh lebih berat, namun mampu bangkit melalui kebijakan yang terukur dan pengorbanan besar dari para pemimpinnya.



