Ekonom Nilai Narasi ‘Sell Indonesia’ Dipicu Kekhawatiran Fiskal

Ilustrasi IHSG.

Gelombang narasi “Sell Indonesia” yang ramai diperbincangkan di kalangan investor internasional dinilai berakar dari meningkatnya keraguan terhadap kondisi fiskal dan arah kebijakan ekonomi pemerintah. Sejumlah ekonom melihat tekanan terhadap rupiah dan pasar saham bukan semata-mata persoalan eksternal, melainkan dipengaruhi faktor domestik, terutama menurunnya kepercayaan pasar.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, mengatakan persoalan utama yang saat ini dihadapi Indonesia justru berada pada sisi fiskal negara.

Menurutnya, langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan belum tentu mampu mengembalikan kepercayaan investor apabila pemerintah belum menunjukkan komitmen kuat dalam memperbaiki pengelolaan anggaran.

“Masalah utamanya ada di fiskal. Kebijakan moneter hanya bisa membantu sementara jika persoalan anggaran dan belanja negara belum dibenahi,” ujarnya.

Sentimen negatif tersebut tercermin dari pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah di level Rp18.168 per dolar AS pada awal Juni. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi domestik.

Bhima menilai pasar saat ini membutuhkan sinyal yang lebih kuat dari pemerintah, baik melalui kebijakan fiskal yang kredibel maupun komunikasi yang mampu menenangkan pelaku pasar.

Di tengah kondisi tersebut, muncul pula spekulasi mengenai kemungkinan perombakan kabinet di sektor ekonomi, termasuk posisi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Centre of Reform on Economics, Muhammad Faisal, menilai isu terbesar yang sedang dihadapi pemerintah adalah persoalan kepercayaan.

Menurutnya, investor dan pelaku usaha perlu diyakinkan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional berada di jalur yang tepat dan dijalankan dengan tata kelola yang baik.

“Yang paling dibutuhkan saat ini adalah membangun kembali kepercayaan pasar. Ketika kepercayaan pulih, stabilitas ekonomi akan lebih mudah dijaga,” katanya.

Sejumlah pengamat juga menyoroti beberapa kebijakan pemerintah yang dinilai menambah ketidakpastian di pasar, mulai dari implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengelolaan aset melalui Danantara, hingga berbagai kebijakan ekonomi yang dianggap belum dikomunikasikan secara matang.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Eko Listiyanto, menilai cara terbaik untuk meredam sentimen negatif tersebut adalah dengan memperbaiki fundamental ekonomi dan menunjukkan kinerja yang meyakinkan.

“Pemerintah harus menjawab keraguan pasar melalui kinerja dan kebijakan yang konsisten, bukan sekadar pernyataan,” tegas Eko.

Tutup