ART JOKES Pertanyakan Keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation di ARTJOG

Koalisi ART JOKES lakukan jumpa pers terkait pembatasan ekspresi di gelaran ARTJOG 2026 di JNM Blok, Yogyakarta, Sabtu (20/6/2026). (H. Husaini)

Polemik seputar penyelenggaraan ARTJOG 2026 terus bergulir. Koalisi ART JOKES menyoroti insiden penghentian aksi performans seorang seniman di kawasan Jogja National Museum (JNM) Bloc, Yogyakarta, yang dinilai sebagai bentuk pembatasan terhadap kebebasan berekspresi dalam ruang seni.

Aksi yang berlangsung bertepatan dengan pembukaan ARTJOG 2026 itu merupakan bentuk protes terhadap keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation (DHF), yayasan yang didirikan putra Presiden Prabowo Subianto, sebagai salah satu pendukung festival seni tahunan tersebut.

Dalam konferensi pers yang digelar di kantor LBH Yogyakarta, Sabtu (20/6/2026), pegiat ART JOKES, Lorca, menyampaikan keprihatinannya terhadap apa yang disebut sebagai semakin kuatnya pengaruh korporasi dan kekuasaan dalam ruang seni.

Menurutnya, festival seni sebesar ARTJOG seharusnya mampu menjaga independensi serta memberikan ruang yang setara bagi berbagai bentuk ekspresi dan kritik sosial yang berkembang di masyarakat.

“Yang membuat kami marah adalah adanya kooptasi korporasi-korporasi yang mendanai perhelatan ini. Kami melihat praktik art washing yang terjadi justru mengabaikan konteks sosial dan politik yang sedang berlangsung saat ini,” ujar Lorca.

Ia juga mempertanyakan relevansi tema ARTJOG 2026, ARS LONGA: GENERATIO, dengan situasi sosial yang tengah dihadapi generasi muda. Menurutnya, ruang seni semestinya menjadi tempat lahirnya berbagai gagasan kritis, termasuk terhadap kebijakan publik yang dianggap bermasalah.

“Banyak mahasiswa turun ke jalan untuk menggugat kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Seniman juga berhak mengekspresikan kemarahan dan kegelisahannya. Namun yang kami lihat justru kesenian yang semakin kapitalistik dan berada dalam kontrol kekuasaan,” katanya.

Senada dengan itu, pegiat ART JOKES lainnya, Wispi, menilai persoalan utama dalam insiden tersebut bukan semata isi kritik yang disampaikan, melainkan tindakan penghentian pertunjukan yang sedang berlangsung.

Menurutnya, aksi performans yang dilakukan seniman seharusnya tetap mendapatkan ruang sebagai bagian dari ekspresi artistik, meski mengandung kritik terhadap situasi sosial dan politik.

“Yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana sebuah ekspresi performans dibatasi. Saat pertunjukan berlangsung, tiba-tiba dihentikan dan seniman yang tampil diseret dari area depan panggung hingga ke pos satpam,” ujar Wispi.

Ia menilai tindakan tersebut menunjukkan adanya sikap yang kurang menghargai kebebasan berekspresi di ruang seni. Padahal, menurutnya, seni selama ini dikenal sebagai medium yang membuka ruang dialog dan keberagaman pandangan.

“Kalau semua orang bisa berbicara, kenapa performans yang dilakukan kawan-kawan kami justru dihentikan secara sepihak?” katanya.

Koalisi ART JOKES menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut dan mendorong adanya ruang diskusi yang lebih luas mengenai independensi seni, kebebasan berekspresi, serta relasi antara dunia seni, kekuasaan, dan korporasi.

Sementara itu, pihak ARTJOG menegaskan bahwa independensi kuratorial tetap menjadi prinsip yang dijaga dalam penyelenggaraan festival. CEO ARTJOG, Heri Pemad, menyatakan dukungan dari berbagai sponsor tidak memengaruhi arah kuratorial maupun pemilihan karya yang ditampilkan.

ARTJOG 2026 yang berlangsung pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026 di Jogja National Museum mengusung tema ARS LONGA: GENERATIO sebagai pembuka trilogi ARS LONGA yang akan berlanjut hingga 2028.

“ARS LONGA: GENERATIO mengawali trilogi ini yang mendorong dialog antargenerasi dalam praktik seni, sekaligus membayangkan kembali peran dan relevansi sosial seni di berbagai rentang usia,” kata Heri.

Ia menegaskan bahwa ARTJOG sejak awal berdiri berkomitmen menjaga independensi kuratorial dan menghadirkan festival seni sebagai ruang perjumpaan yang terbuka bagi publik.

“ARTJOG kembali menegaskan prinsip independensi kuratorial yang telah dipertahankan sejak awal penyelenggaraan. ARTJOG secara konsisten menghadirkan festival seni kontemporer sebagai medium perjumpaan yang inklusif setiap tahun,” ujarnya.

Menurut Heri, dukungan dari berbagai mitra, termasuk yayasan, perusahaan, dan lembaga lainnya, diperlukan untuk menjaga keberlanjutan festival sebagai ruang publik yang mempertemukan seniman, karya, dan berbagai gagasan dalam seni kontemporer.

Perbedaan pandangan yang muncul dalam ARTJOG 2026 menunjukkan bahwa ruang seni masih menjadi arena dialog yang dinamis, sekaligus memperlihatkan bagaimana isu kebebasan berekspresi dan independensi seni terus menjadi perdebatan di tengah perkembangan sosial dan politik yang berlangsung saat ini.

Tutup