Viral, Mumpuni Pendakwah asal Cilacap Bandingkan Gaji Pekerja MBG dan Guru
Pendakwah asal Cilacap, Mumpuni Handayayekti, tengah menjadi perbincangan publik setelah potongan ceramahnya viral di media sosial. Gaya penyampaian yang lugas dan ceplas-ceplos kembali menarik perhatian, kali ini karena menyinggung isu sensitif terkait ketimpangan penghasilan.
Dalam ceramah tersebut, Mumpuni membandingkan realitas ekonomi antara pekerja dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan para guru honorer. Pernyataan itu memicu diskusi luas karena menyentuh persoalan kesejahteraan tenaga pendidik.
“Masak gaji pencuci wadah makan bisa lebih besar dibanding guru yang mencerdaskan bangsa?” ujar Mumpuni dalam potongan video yang beredar dan menjadi viral.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai kritik sosial yang menggambarkan ketimpangan yang masih dirasakan di lapangan. Guru honorer selama ini dikenal sebagai salah satu profesi dengan tingkat kesejahteraan yang relatif rendah, meskipun memiliki peran strategis dalam pendidikan.
Namun, pernyataan itu juga memunculkan polemik. Sejumlah pihak menilai materi ceramah tersebut terlalu jauh menyentuh ranah kebijakan publik, terutama karena berkaitan dengan program prioritas pemerintah.
Di sisi lain, muncul kabar bahwa Mumpuni diminta untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan materi ceramah, khususnya yang bersinggungan dengan isu politik dan kebijakan negara. Informasi ini semakin memicu perdebatan di ruang publik.
Respons masyarakat pun terbelah. Sebagian menilai pembatasan tersebut diperlukan untuk menjaga netralitas ruang dakwah, sementara lainnya menganggap hal itu berpotensi membungkam suara kritis dari masyarakat.
Di media sosial, dukungan terhadap Mumpuni justru menguat. Banyak warganet menilai pernyataan tersebut merepresentasikan kondisi nyata yang dialami masyarakat, khususnya para guru honorer.
“Ini bukan soal politik, tapi realita. Banyak guru honorer yang masih berjuang dengan penghasilan minim,” tulis seorang pengguna media sosial dalam kolom komentar.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari pihak manajemen terkait kabar pembatasan materi ceramah tersebut. Namun, perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa isu kesejahteraan guru masih menjadi perhatian publik yang belum terselesaikan.




