IHSG Turun 0,38 Persen, Rupiah Melemah di Tengah Tekanan Global

Ilustrasi IHSG.

Pasar keuangan Indonesia kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.436, turun 24 poin atau 0,38 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya.

Pelemahan tersebut terjadi seiring dominasi saham yang bergerak di zona merah. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 439 saham mengalami penurunan, sedangkan 201 saham menguat dan 151 saham lainnya tidak berubah.

Di tengah tekanan indeks, aktivitas transaksi justru tercatat cukup ramai. Volume perdagangan mencapai sekitar 24 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,2 triliun. Sementara frekuensi transaksi tercatat sekitar 1,8 juta kali dan kapitalisasi pasar berada di level Rp11.253 triliun.

Tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah. Mengacu data Bloomberg, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.696 per dolar AS atau melemah 2 poin, setara 0,01 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai penguatan dolar AS masih mendapat dukungan dari meningkatnya risiko geopolitik serta gangguan terhadap pasokan minyak di kawasan Timur Tengah.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut turut dipengaruhi perkembangan di Arab Saudi. Ia menyebut laporan mengenai penghentian pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu terjadi setelah pipa minyak Timur-Barat atau East-West pipeline ditutup di tengah serangkaian serangan kelompok Houthi Yaman.

“Gangguan pasokan Timur Tengah terus berlanjut setelah laporan menyebutkan bahwa Arab Saudi telah menghentikan pemuatan di pelabuhan Yanbu setelah eksportir minyak mentah terbesar dunia itu menutup pipa minyak Timur-Barat (East-West pipeline) di tengah serangan dari kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran dalam beberapa minggu terakhir,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Perkembangan terbaru juga datang dari aktivitas militer Houthi. Kelompok tersebut kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi pada pekan ini. Riyadh pada Rabu dini hari menyatakan telah mencegat sebuah drone di wilayah selatan Kota Mekkah.

Ibrahim memperkirakan eskalasi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar energi dunia. “Agresi Houthi terhadap Arab Saudi diperkirakan akan mengganggu sekitar 4 persen hingga 5 persen pasokan minyak global. Situasi ini terjadi di tengah ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz,” ujarnya.

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor tertuju pada kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar menanti keputusan suku bunga bank sentral AS atau The Fed yang dijadwalkan diumumkan Kamis (17/9/2026) pukul 01.00 WIB.

“Pasar keuangan memperkirakan bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen,” kata Ibrahim.

Dari dalam negeri, arah kebijakan fiskal juga menjadi perhatian. Ibrahim menilai Menteri Keuangan Suahasil Nazara menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan penerapan disiplin fiskal.

“Kredibilitas fiskal memiliki nilai bukan semata karena neraca pemerintah terlihat sehat, melainkan karena kesehatan tersebut menciptakan ruang bagi pemerintah untuk bertindak ketika terjadi guncangan ekonomi,” kata Ibrahim.

Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa kondisi eksternal masih menghadirkan sejumlah risiko. Biaya pendanaan global yang tinggi serta permintaan domestik yang belum sepenuhnya kuat dinilai membutuhkan kehati-hatian dalam menentukan kecepatan konsolidasi fiskal.

Untuk perdagangan Kamis (17/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi berada dalam tekanan. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran Rp17.690 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Tutup