Ekonom Prediksi Rupiah Berpotensi Tertekan hingga Akhir Tahun

Ilustrasi ekonomi.

Ekonom Ferry Latuhihin memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih menghadapi tekanan dalam beberapa bulan mendatang. Menurutnya, pelemahan mata uang nasional berpotensi berlanjut hingga akhir tahun apabila berbagai persoalan ekonomi domestik tidak segera diatasi.

Pandangan tersebut disampaikan Ferry dalam sebuah wawancara yang ditayangkan melalui kanal YouTube Gerakan Rakyat pada Jumat (29/5/2026).

Dalam pemaparannya, Ferry menyebut kurs rupiah berpeluang bergerak ke level yang lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini. Bahkan, ia memprediksi nilai tukar dolar AS dapat menembus kisaran Rp20.000 hingga Rp25.000 dalam periode tertentu.

“Saya melihat ada potensi dolar mencapai Rp20.000 pada Juni dan bisa bergerak ke Rp22.000 pada Juli. Dalam skenario tertentu, nilainya bahkan dapat menyentuh Rp25.000 pada periode Juli hingga Desember,” ujar Ferry.

Menurut Ferry, tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi global, tetapi juga berkaitan dengan sejumlah kebijakan dalam negeri yang dinilai belum mampu mendorong produktivitas ekonomi secara optimal.

Ia menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menelan anggaran besar. Menurutnya, program tersebut perlu dievaluasi dari sisi efektivitas terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan nilai tambah.

“Persoalannya bukan hanya besaran anggaran, tetapi sejauh mana belanja negara mampu menghasilkan efek ekonomi yang produktif dan berkelanjutan,” katanya.

Ferry juga mengomentari target pemerintah yang menginginkan nilai tukar rupiah kembali menguat ke kisaran Rp15.000 per dolar AS. Menurutnya, target tersebut akan sulit dicapai apabila tidak didukung oleh fundamental ekonomi dan sentimen pasar yang kuat.

“Pasar keuangan memiliki mekanisme sendiri. Karena itu, target penguatan rupiah harus dibarengi langkah konkret yang mampu meningkatkan kepercayaan investor,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ferry mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat memberikan dampak terhadap berbagai sektor ekonomi. Ia menilai risiko kenaikan inflasi dan perlambatan aktivitas usaha perlu menjadi perhatian pemerintah.

“Jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, maka risiko inflasi yang lebih tinggi dan meningkatnya tekanan terhadap dunia usaha harus diantisipasi sejak dini,” kata Ferry.

Meski demikian, prediksi tersebut merupakan pandangan pribadi narasumber dan masih bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi global maupun kebijakan yang ditempuh pemerintah dalam beberapa bulan ke depan.

Tutup