Data Tenaga Kerja AS Memburuk, Dolar Melemah

Ilustrasi mata uang Dollar AS.(UNSPLASH/Frederick Warren)

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026) waktu setempat. Tekanan terhadap dolar terjadi setelah data terbaru pasar tenaga kerja AS menunjukkan kondisi yang jauh lebih lemah dari perkiraan.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan ekonomi negara tersebut justru kehilangan 23.000 lapangan kerja pada Juli 2026. Angka tersebut berbanding terbalik dengan proyeksi ekonom yang sebelumnya memperkirakan adanya penambahan sekitar 80.000 lapangan kerja.

Meski tingkat pengangguran tercatat 4,1 persen, tingkat partisipasi angkatan kerja turun menjadi 61,4 persen. Angka tersebut menjadi level terendah dalam hampir lima setengah tahun dan memperkuat kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja AS.

Data tersebut kemudian mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar kini memperkirakan bank sentral AS berpotensi menunda perubahan kebijakan suku bunga dari September ke Oktober atau bahkan Desember.

Peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September juga meningkat menjadi 56 persen, dari sebelumnya 45 persen. Perubahan ekspektasi tersebut turut memberikan tekanan terhadap dolar AS di pasar valuta asing.

Terhadap yen Jepang, dolar AS turun 0,57 persen menjadi 157,56 yen. Pelemahan tersebut menghapus sebagian penguatan dolar pada perdagangan sebelumnya. Meski demikian, secara mingguan dolar masih mencatat kenaikan tipis sekitar 0,10 persen terhadap yen.

Dolar AS juga melemah terhadap euro. Euro menguat 0,39 persen menjadi 1,1568 dolar AS per euro. Dalam sepekan, dolar tercatat terdepresiasi sekitar 0,41 persen terhadap mata uang kawasan Eropa tersebut.

Tekanan terhadap dolar turut tercermin dari pergerakan Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama. DXY turun 0,44 persen ke level 99,50.

Secara mingguan, indeks tersebut melemah 0,31 persen dan mencatatkan penurunan selama dua pekan berturut-turut. Tren tersebut menunjukkan tekanan terhadap dolar semakin kuat seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap prospek kebijakan moneter AS.

Pelemahan ekspektasi terhadap suku bunga juga berdampak pada pasar surat utang pemerintah AS. Imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun turun menjadi 4,245 persen, sementara yield surat utang tenor 10 tahun berada di level 4,649 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan bagaimana data ketenagakerjaan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan investor dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed. Jika pelemahan pasar tenaga kerja berlanjut, ruang bagi bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat dapat semakin terbatas.

Tutup