Banyak Gen Z Cari Kerja dengan Bantuan Orang Tua

Ilustrasi lamaran kerja.

Fenomena keterlibatan orang tua dalam proses pencarian kerja anak-anak mereka semakin terlihat di kalangan Generasi Z. Di tengah persaingan pasar kerja yang semakin ketat, banyak pencari kerja muda memilih meminta bantuan orang tua untuk meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan.

Berdasarkan survei McKinsey, sekitar 70 persen Gen Z mengaku meminta bantuan orang tua saat mencari pekerjaan. Bahkan, 83 persen responden yang berhasil memperoleh pekerjaan penuh waktu menyatakan dukungan orang tua berperan dalam keberhasilan tersebut.

Generasi Z saat ini menghadapi kondisi pasar kerja yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Banyak perusahaan menetapkan syarat pengalaman kerja bahkan untuk posisi entry-level, sementara proses rekrutmen juga semakin panjang dengan berbagai tahapan seleksi, mulai dari tes kemampuan hingga wawancara berlapis.

Situasi tersebut membuat sebagian anak muda memandang orang tua sebagai sumber dukungan strategis. Bantuan yang diberikan beragam, mulai dari menyusun dan mengoreksi curriculum vitae (CV), melakukan simulasi wawancara, hingga memanfaatkan jaringan profesional yang dimiliki keluarga.

Namun, keterlibatan orang tua ternyata tidak berhenti pada tahap persiapan saja. Sejumlah survei menunjukkan peran mereka kini semakin jauh masuk ke dalam proses rekrutmen.

Salah satu temuan yang cukup menarik menunjukkan sekitar 40 persen orang tua dari pencari kerja Gen Z pernah ikut hadir dalam proses wawancara kerja anak mereka. Dalam beberapa kasus, orang tua tidak hanya mengantar, tetapi juga ikut masuk ke ruang wawancara.

Mereka disebut terlibat dengan mencatat jalannya wawancara, memberikan masukan kepada anak, bahkan membantu membahas persoalan kompensasi atau gaji dengan pihak perusahaan.

Fenomena yang dahulu mungkin dianggap tidak lazim kini mulai menjadi pemandangan yang lebih sering ditemukan. Data yang dirilis pada akhir 2025 menunjukkan sekitar 77 persen pencari kerja Gen Z mengaku melibatkan orang tua dalam proses rekrutmen mereka.

Keterlibatan tersebut mencerminkan perubahan pola hubungan antara orang tua dan anak di era modern. Di satu sisi, dukungan keluarga dianggap dapat membantu anak menghadapi persaingan kerja yang semakin kompleks. Namun di sisi lain, muncul perdebatan mengenai batas ideal keterlibatan orang tua dalam proses profesional yang seharusnya menjadi tanggung jawab individu.

Fenomena ini sekaligus menggambarkan bagaimana tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif mendorong lahirnya pola baru dalam proses pencarian kerja, khususnya di kalangan Generasi Z.

Tutup