Ade Armando Hengkang dari PSI, Demi Partai?
Langkah mengejutkan datang dari kader Partai Solidaritas Indonesia, Ade Armando, yang memutuskan hengkang dari partainya di tengah sorotan publik. Keputusan ini disampaikan langsung dalam konferensi pers, dengan alasan menjaga citra partai dari polemik yang terus berkembang.
Ade menegaskan bahwa pengunduran dirinya bukan dipicu konflik internal. Ia justru menyebut langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab pribadi agar dinamika yang melibatkan dirinya tidak berdampak lebih luas ke partai.
“Melalui konferensi pers ini saya menyatakan mengundurkan diri dari PSI. Tidak ada konflik di antara saya dengan PSI, tapi saya mundur menurut saya demi kebaikan bersama.”
Pernyataan tersebut muncul di tengah gelombang kritik yang kembali mengarah kepadanya. Dalam beberapa waktu terakhir, Ade memang kerap menjadi sorotan akibat pernyataan-pernyataannya di ruang publik yang dinilai kontroversial.
Ia mengakui, dirinya tidak asing dengan kritik. Namun situasi kali ini berbeda karena dinilai telah menyeret nama partai ke dalam pusaran polemik yang lebih besar.
“Selama ini saya terlalu sering jadi sasaran tembak akibat ucapan saya, komentar saya, kritik saya terhadap berbagai pihak.”
Ade juga menyinggung adanya laporan dari sejumlah kelompok yang menilai pernyataannya bermasalah. Tuduhan yang muncul tidak main-main, mulai dari provokasi hingga dugaan fitnah terhadap tokoh nasional.
“Ada pelaporan dari pihak-pihak yang menganggap saya menghasut, memprovokasi, bahkan ada tuduhan saya memfitnah Pak JK dan seterusnya.”
Meski menyebut pengunduran diri sebagai langkah untuk meredam dampak, keputusan ini tetap menyisakan pertanyaan. Apakah ini benar murni bentuk tanggung jawab pribadi, atau justru tekanan politik yang tak diungkap ke publik?
Di sisi lain, mundurnya Ade juga mencerminkan dilema yang kerap dihadapi figur publik sekaligus politisi: antara kebebasan berpendapat dan konsekuensi politik yang menyertainya.
PSI sendiri hingga kini belum memberikan penjelasan panjang terkait dampak internal dari keputusan tersebut. Namun langkah Ade bisa dibaca sebagai upaya menjaga jarak antara kontroversi personal dengan citra institusi.





