Prabowo: Ada Profesor yang Bela Kepentingan Asing

Presiden Prabowo Foto: BPMI Setpres/Cahyo

Presiden Prabowo Subianto menyoroti kalangan akademisi bergelar profesor yang menurutnya tidak mampu melihat persoalan ketidakadilan di Indonesia. Ia bahkan mempertanyakan sikap profesor yang dinilainya justru membela kepentingan pihak asing.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Dalam kesempatan itu, Prabowo berbicara mengenai pentingnya membangun generasi yang memiliki integritas, kesehatan, serta wawasan luas.

Prabowo mengawali pesannya dengan menyinggung nilai berbudi tinggi yang menjadi salah satu prinsip yang ia kaitkan dengan pendidikan Gontor dan pembentukan karakter. Menurutnya, integritas harus tercermin ketika seseorang memperoleh kepercayaan untuk memegang jabatan.

“Berbudi tinggi, harus berbudi tinggi, jujur, ikhlas, nggak boleh jadi koruptor, jangan berpura-pura berbudi tinggi, pura-pura ikhlas, pura-pura jujur, begitu dikasih kepercayaan jabatan, nyolong,” ujar Prabowo.

Ia kemudian mengaitkan nilai berbadan sehat dengan persoalan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Prabowo menegaskan keinginannya agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat dan tidak mengalami kekurangan gizi maupun kelaparan ketika hendak bersekolah.

“Saya bertekad, anak-anak Indonesia dan rakyat Indonesia, karena itu saya ingin anak-anak Indonesia tidak boleh ada yang kurang gizi, tidak boleh berangkat sekolah kelaparan,” katanya.

Prabowo mengatakan kekayaan sumber daya alam Indonesia seharusnya dapat menjadi modal untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Ia menegaskan tidak ingin masih ada masyarakat yang mengalami kelaparan di tengah potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia.

“Karena itu, saya menerima mandat dari rakyat Indonesia, saya tidak ingin ada orang lapar di Indonesia, Indonesia yang subur, Indonesia yang begitu banyak kekayaannya, tidak ada yang boleh lapar di bumi Indonesia,” sambungnya.

Memasuki pembahasan mengenai pentingnya pengetahuan luas, Prabowo menekankan bahwa pemimpin Indonesia harus memiliki kemampuan berpikir dan wawasan yang memadai. Menurutnya, pengetahuan diperlukan agar pemimpin tidak mudah dipengaruhi atau dibohongi pihak lain.

“Berpengetahuan luas, benar, pemimpin Indonesia harus pintar jangan dibohongi orang, jangan dibodohin,” tutur Prabowo.

Pada bagian inilah Prabowo kemudian menyampaikan kritiknya terhadap sebagian kalangan profesor. Ia mengaku heran terhadap akademisi yang menurutnya memiliki pendidikan tinggi tetapi tidak mampu melihat persoalan ketidakadilan.

“Aku heran kadang profesor tapi nggak bisa melihat ketidakadilan, profesor yang justru malah membela kepentingan orang-orang asing,” ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks pesan Prabowo mengenai pentingnya kemampuan melihat persoalan secara mandiri dan tidak mudah dipengaruhi. Dalam kesempatan yang sama, ia juga menekankan pentingnya membangun Indonesia yang mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri.

Dalam acara satu abad Gontor itu, Prabowo juga menekankan bahwa nilai pendidikan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan. Menurutnya, generasi Indonesia perlu memiliki karakter, keberanian melihat persoalan, serta kemampuan mengambil sikap berdasarkan kepentingan bangsa.

Tutup