Harga Minyak Turun Usai China Tekan Iran
Harga minyak dunia mulai terkoreksi setelah China meminta Iran membatasi serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Langkah diplomatik tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Pada perdagangan Jumat, 18 September 2026 waktu setempat, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup pada level 104,87 dolar AS per barel. Harga tersebut turun 95 sen atau 0,93 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat. Kontrak WTI berakhir di level 100,30 dolar AS per barel, melemah 1,61 dolar AS atau 1,58 persen.
Meski mengalami koreksi, harga kedua acuan minyak tersebut masih berada di atas 100 dolar AS per barel. Brent juga berada di jalur mencatat penurunan mingguan pertama dalam tiga pekan setelah sebelumnya mengalami kenaikan tajam akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Permintaan China kepada Iran menjadi salah satu faktor yang membantu meredakan tekanan di pasar. Pelaku pasar melihat upaya tersebut sebagai sinyal adanya langkah untuk membatasi risiko meluasnya konflik yang dapat mengganggu infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak.
Namun, kekhawatiran mengenai pasokan belum sepenuhnya hilang. Tiga stasiun pompa yang menjadi bagian dari jalur pipa East-West Arab Saudi dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan pada pekan sebelumnya.
Pipa East-West memiliki peran strategis karena menghubungkan wilayah produksi minyak di bagian timur Arab Saudi dengan fasilitas ekspor di kawasan Laut Merah. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan Saudi menyalurkan minyak melalui rute alternatif.
Arab Saudi disebut tengah berupaya memulihkan sekitar separuh kapasitas pipa dalam beberapa hari. Meski demikian, belum terdapat kepastian mengenai kapan seluruh aliran dapat kembali ke tingkat normal.
Situasi di terminal Yanbu juga menjadi perhatian. Pengiriman minyak mentah melalui terminal yang berada di pesisir Laut Merah tersebut sebelumnya dilaporkan dihentikan, menambah ketidakpastian terhadap kelancaran distribusi minyak dari Arab Saudi.
Risiko pasokan juga masih terlihat di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Aktivitas pelayaran di kawasan tersebut masih jauh di bawah kondisi normal.
Pada Kamis, hanya empat kapal pengangkut komoditas yang tercatat melintasi Selat Hormuz. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata sekitar 16 kapal dalam periode 10 hari.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun intervensi diplomatik China membantu meredakan sebagian tekanan pasar, risiko terhadap pasokan minyak global masih terbuka. Pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik, pemulihan infrastruktur energi Arab Saudi, serta kelancaran lalu lintas kapal di jalur perdagangan utama Timur Tengah.



