Nobar Film “Pesta Babi” di Ternate Dibubarkan TNI

Acara itu digelar AJI Ternate bersama Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dengan agenda pemutaran film dokumenter serta diskusi mengenai isu lingkungan dan persoalan sosial.

Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di kawasan Benteng Oranje dibubarkan aparat TNI pada Jumat (8/5/2026) malam. Insiden tersebut memicu kecaman dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate yang menilai tindakan aparat sebagai bentuk intimidasi terhadap kebebasan berekspresi dan ruang demokrasi.

Acara itu digelar AJI Ternate bersama Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dengan agenda pemutaran film dokumenter serta diskusi mengenai isu lingkungan dan persoalan sosial.

Menurut panitia, upaya penghentian kegiatan sudah mulai terlihat sejak proses persiapan dilakukan sekitar pukul 19.30 WIT. Sejumlah anggota Babinsa dan personel intelijen TNI disebut mendatangi lokasi sambil memantau aktivitas panitia.

“Sejak persiapan, aparat sudah datang dan mendokumentasikan kegiatan kami,” ujar salah satu panitia di lokasi.

Sekitar pukul 21.00 WIT, aparat dari Kodim 1501/Ternate kembali mendatangi area kegiatan dan meminta panitia menghentikan agenda pemutaran film. Meski demikian, panitia tetap mencoba melanjutkan acara yang telah direncanakan sebelumnya.

Film dokumenter karya Watchdoc itu akhirnya diputar sekitar pukul 21.30 WIT dan dihadiri sejumlah jurnalis, aktivis lingkungan, anggota AJI Ternate, serta komunitas masyarakat sipil lainnya.

Namun tak lama setelah pemutaran berlangsung, Komandan Kodim 1501/Ternate Letkol Inf Jani Setiadi bersama sejumlah personel TNI kembali datang ke lokasi dan meminta acara dihentikan.

“Kami diminta menghentikan pemutaran film saat kegiatan sedang berlangsung,” kata peserta diskusi.

AJI Ternate kemudian mengecam tindakan pembubaran tersebut. Organisasi jurnalis itu menilai pemutaran film dan diskusi publik merupakan bagian dari hak warga negara untuk menyampaikan pendapat serta bertukar gagasan secara damai.

“Pembubaran ini menjadi preseden buruk bagi kebebasan berekspresi dan ruang demokrasi di daerah,” tegas perwakilan AJI Ternate.

Tutup