Harga CPO Naik, Mendag Akui MinyaKita Mulai Langka di Pasaran
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengakui ketersediaan minyak goreng rakyat merek MinyaKita saat ini mulai langka di sejumlah daerah. Pemerintah menyebut kondisi tersebut terjadi karena distribusi produk subsidi itu sedang diprioritaskan untuk wilayah Papua.
Menurut Budi, MinyaKita merupakan bagian dari kebijakan domestic market obligation (DMO) yang memang diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Namun di lapangan, permintaan terhadap MinyaKita terus meningkat karena kualitasnya dinilai tidak jauh berbeda dibanding minyak goreng merek komersial lainnya.
“Memang peruntukannya seperti itu, tapi kadang-kadang masyarakat lebih memilih MinyaKita karena kualitasnya hampir sama dengan produk lain,” ujar Budi pada Minggu (10/5/2026).
Ia meminta masyarakat tidak hanya bergantung pada MinyaKita karena di pasaran masih tersedia berbagai merek minyak goreng lain dengan kualitas serupa. Pemerintah, kata dia, terus berupaya menjaga pasokan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Selain membahas distribusi, Kementerian Perdagangan juga tengah mengkaji kemungkinan penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita yang selama hampir tiga tahun belum mengalami perubahan.
Budi menjelaskan, evaluasi harga dilakukan karena adanya kenaikan harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah yang berdampak langsung terhadap biaya produksi minyak goreng nasional.
Tak hanya itu, kenaikan ongkos distribusi dan biaya logistik juga menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengevaluasi harga jual MinyaKita di tingkat konsumen.
“Struktur pembiayaan dan distribusi semuanya naik. Karena itu kami melihat perlu ada penyesuaian agar sesuai kondisi saat ini,” katanya.
Meski begitu, pemerintah memastikan pembahasan penyesuaian HET masih dalam tahap kajian dan belum diputuskan secara final. Kementerian Perdagangan disebut akan mempertimbangkan daya beli masyarakat sebelum mengambil keputusan terkait harga baru MinyaKita.
Kelangkaan MinyaKita belakangan memang dikeluhkan masyarakat di sejumlah daerah. Produk tersebut selama ini menjadi pilihan utama karena harganya lebih terjangkau dibanding minyak goreng komersial lainnya di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok.




