May Day 2026: KASBI Turun ke DPR Bawa 10 Tuntutan
Sekitar 10.000 buruh yang tergabung dalam Konfederasi KASBI dan Aliansi GEBRAK dijadwalkan menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Jakarta, pada Jumat (1/5/2026). Aksi tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day.
Demonstrasi ini menjadi agenda mandiri yang dipisahkan dari perayaan “May Day Fiesta” di kawasan Monumen Nasional (Monas), yang pada hari yang sama juga dihadiri puluhan ribu buruh dari kelompok lain.
Ketua Umum KASBI, Sunarto, menegaskan bahwa pihaknya memilih jalur aksi di parlemen sebagai bentuk sikap kritis terhadap kondisi ketenagakerjaan saat ini.
“Aksi ini kami lakukan secara mandiri karena melihat situasi buruh hari ini masih jauh dari kata sejahtera. Banyak persoalan mendasar yang belum diselesaikan,” ujarnya.
Mengusung tema “Lawan Kapitalisme, Imperialisme, Militerisme: Wujudkan Kerja Layak, Upah Layak, dan Hidup Layak,” massa aksi akan memusatkan tuntutan pada perubahan kebijakan yang dinilai belum berpihak pada buruh.
Menurut Sunarto, peringatan May Day seharusnya tidak hanya menjadi seremoni, melainkan momentum untuk menyuarakan persoalan struktural yang dihadapi pekerja di berbagai sektor.
Dalam aksinya, KASBI dan GEBRAK membawa sedikitnya 10 tuntutan utama. Di antaranya mendesak lahirnya undang-undang ketenagakerjaan yang lebih berpihak kepada buruh serta reformasi menyeluruh terhadap sistem pengupahan nasional.
Selain itu, mereka juga menuntut penghapusan sistem outsourcing dan kerja kontrak yang dianggap merugikan pekerja, serta mendorong ratifikasi sejumlah konvensi internasional, termasuk Konvensi ILO 188 dan 190.
Tuntutan lainnya mencakup peningkatan kesejahteraan bagi tenaga pendidik, pekerja platform digital, tenaga kesehatan, serta sektor informal yang selama ini dinilai kurang mendapatkan perlindungan optimal.
Tak hanya isu ketenagakerjaan, massa aksi juga menyoroti persoalan yang lebih luas, seperti penghentian pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, akses pendidikan dan layanan kesehatan gratis, hingga penghentian kriminalisasi terhadap gerakan rakyat.
Aksi ini juga memuat pesan solidaritas internasional terhadap perjuangan buruh dan masyarakat di berbagai negara, sekaligus menegaskan posisi gerakan buruh sebagai bagian dari kekuatan sosial yang lebih luas.
Dengan agenda yang terpisah dari perayaan di Monas, aksi di DPR RI diperkirakan menjadi salah satu pusat perhatian dalam dinamika peringatan May Day 2026 di Indonesia.




