UNIFIL Diserang, Tentara Prancis Gugur di Lebanon
Seorang prajurit asal Prancis yang tergabung dalam misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon dilaporkan tewas dalam sebuah insiden bersenjata. Kejadian ini kembali menyoroti tingginya risiko keamanan yang dihadapi pasukan internasional di kawasan konflik tersebut.
Kabar duka tersebut diumumkan langsung oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron. Dalam pernyataannya, Macron mengidentifikasi korban sebagai Florian Montorio, anggota Resimen Insinyur Parasut ke-17 Angkatan Darat Prancis. Selain satu korban jiwa, tiga personel lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
“Semua indikasi mengarah pada tanggung jawab kelompok Hizbullah dalam serangan ini,” ujar Macron, seraya mendesak otoritas Lebanon untuk segera mengambil langkah hukum terhadap pelaku.
Misi penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menjelaskan bahwa insiden terjadi saat patroli mereka tengah menjalankan operasi pembersihan bahan peledak di wilayah selatan Lebanon.
Dalam keterangan resminya, UNIFIL menyebut tim sedang bekerja di sepanjang jalur di Desa Ghanduriyah ketika tiba-tiba menjadi sasaran tembakan senjata ringan oleh pihak yang dikategorikan sebagai aktor non-negara.
Serangan tersebut tidak hanya menimbulkan korban, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran atas keamanan personel penjaga perdamaian yang bertugas di wilayah dengan dinamika konflik yang kompleks.
Pemerintah Lebanon merespons insiden ini dengan kecaman keras. Perdana Menteri Nawaf Salam menyatakan bahwa serangan terhadap pasukan internasional merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Ia juga memerintahkan dilakukannya penyelidikan segera guna mengungkap pelaku dan memastikan proses hukum berjalan transparan.
“Kami mengutuk keras serangan ini dan menegaskan komitmen untuk mengusut tuntas pihak yang bertanggung jawab,” kata Nawaf Salam dalam pernyataan resminya.
Insiden ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi UNIFIL dalam menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel, wilayah yang kerap dilanda ketegangan dan konflik bersenjata.
Komunitas internasional kini menaruh perhatian pada perkembangan penyelidikan, sembari mendesak semua pihak untuk menahan diri guna mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut.





