Pelaksanaan ujian berbasis Computer Assisted Test (CAT) untuk seleksi Manajer Koperasi Desa Merah Putih menuai sorotan setelah sejumlah peserta mengeluhkan dugaan gangguan teknis selama proses ujian berlangsung.
Keluhan muncul di berbagai lokasi pelaksanaan tes, salah satunya di Gedung Al Kautsar, Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung.
Berdasarkan video dan kesaksian peserta yang beredar di media sosial, sistem CAT disebut beberapa kali mengalami gangguan saat peserta sedang mengerjakan soal.
Peserta mengaku jawaban yang telah dipilih tiba-tiba berubah sendiri, sementara sistem juga disebut lambat merespons saat layar diklik.
Kondisi tersebut dinilai sangat mengganggu konsentrasi peserta, terlebih waktu pengerjaan ujian disebut sangat terbatas.
Dalam pelaksanaannya, ujian terdiri dari tujuh subtes dengan jumlah soal berkisar antara 20 hingga 50 butir pada setiap sesi. Namun waktu yang diberikan hanya sekitar tujuh menit untuk masing-masing subtes.
Situasi itu membuat peserta merasa dirugikan karena gangguan teknis dianggap memengaruhi fokus dan hasil pengerjaan soal.
“Pas pilih jawaban sering berubah sendiri, terus sistemnya juga lambat,” ujar salah satu peserta dalam video yang beredar.
Sorotan semakin besar setelah hasil ujian diumumkan langsung melalui siaran YouTube usai pelaksanaan tes.
Dari ratusan peserta pada sesi ketiga, disebut hanya kurang dari 10 orang yang berhasil mencapai nilai ambang batas atau passing grade sebesar 110.
Hasil tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan peserta mengenai kualitas sistem CAT yang digunakan serta transparansi penyelenggaraan seleksi.
Sejumlah peserta berharap panitia penyelenggara memberikan penjelasan resmi terkait dugaan gangguan sistem tersebut, termasuk kemungkinan evaluasi terhadap hasil ujian yang telah berlangsung.
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara terkait keluhan peserta maupun dugaan gangguan teknis selama proses seleksi berlangsung.