Program Becak Listrik di Yogyakarta Dinilai Masih Banyak Kendala

Parmin, Ketua Paguyuban Becak Malioboro menjajal becak listrik bantuan pemerintah. (H. Husaini)

Program elektrifikasi becak di Kota Yogyakarta mendapat respons positif dari para pengemudi. Namun, mereka menilai pemerintah masih perlu melengkapi berbagai fasilitas pendukung agar operasional becak listrik dapat berjalan lebih optimal.

Ketua Paguyuban Becak Motor Yogyakarta, Parmin, mengatakan jumlah becak listrik di kawasan Malioboro terus bertambah, meski mayoritas armada masih menggunakan mesin konvensional. Dari sekitar 800 becak yang beroperasi, baru sekitar 200 unit yang telah beralih menggunakan tenaga listrik.

“Kalau dari paguyuban maunya beralih semua sekaligus. Saat ini masih ada sekitar 600 becak bermotor yang beroperasi di Malioboro, sedangkan becak listrik baru sekitar 200 unit,” kata Parmin saat peresmian Becak Listrik Wisata (Becakalista) di Alun-Alun Kidul, Yogyakarta, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, penggunaan becak listrik memang lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun, perubahan armada belum berdampak signifikan terhadap peningkatan pendapatan para pembecak.

Pada hari biasa, penghasilan yang diperoleh masih relatif kecil, sedangkan pendapatan baru meningkat saat musim libur atau kunjungan wisatawan ramai.

“Kalau hari sepi paling dapat sekitar Rp20 ribu. Kalau musim liburan bisa sampai Rp100 ribu,” ujarnya.

Parmin juga mengungkapkan adanya kendala saat pengemudi becak listrik menerima pesanan secara daring. Mereka sering kali enggan mengambil penumpang di lokasi tertentu karena menghormati rekan sesama pembecak yang sudah lebih dulu mangkal di kawasan tersebut.

“Kalau dapat order dari Malioboro untuk jemput di Hotel Melia, padahal di sana sudah ada teman-teman yang mangkal, kami jadi tidak enak karena sama-sama mencari nafkah,” tuturnya.

Selain itu, keterbatasan fasilitas pengisian daya masih menjadi persoalan utama. Saat ini titik pengecasan becak listrik di kawasan Malioboro dinilai belum memadai sehingga antrean sering terjadi.

Parmin menjelaskan proses pengisian baterai hingga penuh membutuhkan waktu sekitar delapan jam. Kondisi tersebut membuat pengemudi kesulitan mengatur waktu operasional.

“Tempat pengecasan masih terbatas. Kami berharap ada sekitar 10 titik pengisian daya supaya tidak terjadi antrean,” katanya.

Tutup