Polemik Pernyataan, Menteri PPPA Sampaikan Maaf
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas pernyataan sebelumnya yang menuai kritik publik. Pernyataan tersebut dinilai kurang sensitif karena disampaikan di tengah suasana duka yang masih dirasakan masyarakat.
Permintaan maaf itu disampaikan melalui akun resmi Instagram Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dalam keterangannya, Arifah menegaskan pentingnya menempatkan nilai kemanusiaan di atas segala diskursus kebijakan.
“Kami menyadari bahwa keselamatan setiap nyawa adalah prioritas mutlak di atas segala diskursus kebijakan,” tulis Arifah dalam pernyataan resminya.
Ia mengakui bahwa peristiwa ini menjadi refleksi penting bagi kementeriannya, khususnya dalam hal komunikasi publik saat menghadapi situasi krisis. Evaluasi internal, menurutnya, akan difokuskan pada peningkatan empati dalam penyampaian kebijakan.
“Insiden ini menjadi bahan evaluasi mendalam bagi kami dalam berkomunikasi dengan masyarakat, terutama pada situasi yang penuh sensitivitas,” lanjutnya.
Pasca polemik tersebut, kementerian menyatakan akan mengalihkan fokus pada langkah konkret di lapangan guna membantu para korban dan keluarga yang terdampak.
Salah satu prioritas utama adalah pemberian pendampingan psikologis bagi keluarga korban. Program ini ditujukan untuk membantu proses pemulihan trauma secara berkelanjutan.
Selain itu, perlindungan terhadap anak-anak yang terdampak juga menjadi perhatian khusus. Pemerintah memastikan hak-hak dasar anak tetap terpenuhi, termasuk aspek keamanan dan kesejahteraan.
Sebelumnya, respons kementerian sempat menuai kritik karena dinilai lebih menonjolkan aspek kebijakan dibandingkan empati terhadap korban. Hal ini memicu perdebatan di ruang publik.





