Keren! PNM Dampingi Pengrajin Bali Tembus Pasar Internasional
Di tengah persoalan sampah pantai yang kerap terjadi di Bali, seorang pengrajin asal Tegallalang justru melihat peluang dari limbah kayu yang terbawa ombak dan terdampar di pesisir. Melalui kreativitas dan ketekunan, kayu-kayu laut yang sebelumnya dianggap tak bernilai kini diubah menjadi produk kerajinan dengan pasar hingga mancanegara.
Adalah Wayan Sudira, pendiri Ulu Sari Handicraft, yang memanfaatkan limbah kayu laut menjadi berbagai karya kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Usaha tersebut tidak hanya membantu mengurangi persoalan sampah pantai, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Bagi Wayan, kayu-kayu yang menepi di pantai bukan sekadar limbah lingkungan. Ia melihat material tersebut memiliki karakter alami dan nilai seni yang dapat diolah menjadi produk dekorasi maupun kerajinan tangan dengan daya tarik tersendiri.
Melalui Ulu Sari Handicraft, limbah kayu laut diolah menjadi produk yang sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, khususnya poin tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta perlindungan ekosistem laut.
Perjalanan usaha Wayan semakin berkembang setelah bergabung dengan PT Permodalan Nasional Madani melalui program PNM ULaMM pada tahun 2017. Melalui program tersebut, ia mendapatkan akses pembiayaan sekaligus pendampingan usaha secara rutin.
Dukungan tersebut membantu Ulu Sari Handicraft berkembang lebih terarah. Kini, usaha tersebut telah memiliki dua workshop yang berlokasi di Singaraja dan Tegallalang.
Tidak hanya berkembang secara bisnis, usaha ini juga membawa dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Ulu Sari Handicraft kini mempekerjakan sekitar 45 karyawan yang sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga dan mantan pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja saat pandemi COVID-19.
Di tengah lesunya banyak usaha mikro dan kecil selama pandemi, permintaan terhadap produk Ulu Sari Handicraft justru mengalami peningkatan. Produk kerajinan berbahan kayu laut buatan mereka diminati pasar internasional karena memiliki nilai artistik dan konsep ramah lingkungan.
Hingga kini, karya-karya Wayan rutin dikirim ke berbagai negara seperti Selandia Baru, Australia, Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat.
Bagi Wayan, pencapaian tersebut bukan hanya soal keberhasilan bisnis, melainkan rasa syukur karena mampu mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap sampah menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang.
“Semua ini titiang yakini karena jalan Tuhan. Dari kayu yang terbuang, astungkara bisa menjadi rezeki untuk keluarga, untuk karyawan, dan untuk orang-orang di sekitar,” ujar Wayan.
Ia mengatakan hal terpenting yang terus dijaga dalam menjalankan usaha adalah rasa syukur, kepercayaan pelanggan, dan komitmen untuk terus bekerja dengan baik.
Kisah Ulu Sari Handicraft menjadi gambaran bagaimana pemberdayaan UMKM dapat memberi dampak luas, bukan hanya secara ekonomi tetapi juga sosial dan lingkungan. Dari limbah pantai yang semula menjadi persoalan, lahir ruang usaha baru yang membantu banyak keluarga bertahan dan berkembang bersama.
Program pendampingan yang diberikan PNM juga dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat kapasitas usaha mikro dan kecil agar mampu naik kelas dan menembus pasar global.
Melalui semangat pemberdayaan UMKM, kisah ini menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha tidak hanya dirasakan pemilik bisnis, tetapi juga ikut menggerakkan keluarga, masyarakat sekitar, hingga membuka harapan baru bagi lingkungan di sekitarnya.
#PNMuntukUMKM
#PNMPemberdayaanUMKM




