IHSG Anjlok 11,57 Persen, Danantara Berpeluang Borong Saham
Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi perhatian Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dalam membaca peluang penempatan modal di pasar saham. Penurunan harga saham dinilai membuka ruang bagi investor jangka panjang untuk mencermati perusahaan yang memiliki prospek bisnis kuat dengan valuasi lebih rendah.
IHSG tercatat ditutup pada level 5.185,105 pada Jumat (16/10/2026), setelah kehilangan 678,675 poin atau setara 11,57 persen berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI).
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan pergerakan pasar yang melemah tidak serta-merta membuat investasi kehilangan daya tarik. Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat menjadi kesempatan untuk masuk ke pasar modal dengan mempertimbangkan nilai perusahaan dan potensi pertumbuhan dalam jangka panjang.
“Justru kami melihatnya ini adalah suatu opportunity ke depannya karena tentunya kami sebagai Danantara selalu melihat investasi itu sebagai long-term investment, bukan sebagai investor in and out,” ujar Rosan dalam konferensi pers di gedung BEI, Jakarta.
Dalam menentukan peluang investasi, Danantara mempertimbangkan valuasi saham sekaligus kekuatan fundamental perusahaan. Salah satu sektor yang menjadi sorotan Rosan adalah perbankan, yang menurutnya masih memiliki kondisi bisnis dan fundamental yang solid.
Ia menyebut valuasi sejumlah saham perbankan berada di bawah satu kali nilai buku atau price to book value (PBV). Angka tersebut juga dinilai lebih rendah dibandingkan median valuasi perusahaan sejenis dalam industri yang sama.
“Contohnya dari sektor perbankan kita sangat baik, solid tapi valuasinya mungkin di bawah one time price to book value dan ini di bawah average dari median valuasi di peers-nya, di industrinya,” kata Rosan.
Peluang investasi tidak hanya terbatas pada sektor keuangan. Danantara juga mencermati sektor infrastruktur, telekomunikasi, serta bidang usaha lain yang dinilai memiliki prospek untuk dikembangkan.
Rosan menegaskan bahwa strategi Danantara berorientasi pada investasi jangka panjang, bukan sekadar memanfaatkan pergerakan harga saham dalam waktu singkat. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menangkap potensi peningkatan nilai perusahaan di masa mendatang.
“Dari sisi kami, kami selalu melihat bahwa ini adalah opportunity untuk kita sebagai long-term investment di pasar modal Indonesia untuk masuk bersama-sama, beserta ekosistem yang ada,” tuturnya.
Terkait tekanan yang melanda pasar saham, Rosan menilai penurunan kali ini lebih dipengaruhi oleh faktor teknikal dan sentimen pasar dibandingkan persoalan mendasar pada kinerja perusahaan. Ia juga menyinggung rumor yang berkembang di kalangan pelaku pasar sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan indeks.
“Kalau kami melihatnya ini bukan karena soal fundamental, tapi ini lebih soal teknikal, rumor di market dan juga lebih ke soal nonfundamental,” ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Rosan menyambut upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI dalam memperkuat reformasi pasar modal. Pembenahan diarahkan pada peningkatan transparansi, penguatan tata kelola perusahaan, serta perbaikan akuntabilitas.
Menurutnya, reformasi tersebut diperlukan untuk membangun kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia, termasuk dari luar negeri. Kepercayaan menjadi aspek penting dalam menjaga daya tarik pasar domestik di tengah dinamika pergerakan saham.
“Kami di Danantara siap masuk karena melihat kembali lagi ini adalah momen yang sangat baik untuk kita berinvestasi ke saham-saham yang ada di Indonesia,” pungkas Rosan.
Meski demikian, penurunan harga saham tidak otomatis menjadikan seluruh emiten layak dibeli. Penilaian terhadap valuasi, kondisi keuangan, dan prospek bisnis masing-masing perusahaan tetap menjadi pertimbangan penting dalam menentukan keputusan investasi.


