H&M Tutup 160 Toko, Akui Penjualan Sempat Terdampak

H&M

Raksasa ritel fesyen global, H&M, dikabarkan akan menutup sekitar 160 gerai secara permanen sepanjang 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam merespons perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah ke platform digital.

Langkah tersebut mencerminkan pergeseran signifikan dalam pola belanja masyarakat global. Dalam beberapa tahun terakhir, konsumen cenderung lebih memilih berbelanja secara online dibandingkan mengunjungi toko fisik.

Di tengah tren tersebut, H&M menilai jumlah toko fisik yang terlalu banyak tidak lagi sepenuhnya relevan. Perusahaan pun mulai mengoptimalkan strategi omnichannel dengan memperkuat pengalaman belanja digital sekaligus merasionalisasi jaringan gerai.

Selain faktor perubahan perilaku konsumen, tekanan biaya operasional juga menjadi pertimbangan utama. Tingginya biaya sewa, logistik, serta tenaga kerja di berbagai negara mendorong perusahaan melakukan efisiensi demi menjaga daya saing di industri fesyen global.

Dalam laporan keuangannya, H&M mengakui bahwa langkah penyesuaian ini turut berdampak pada kinerja jangka pendek.

“Optimalisasi portofolio toko memberikan dampak agak negatif terhadap penjualan pada kuartal pertama 2026 karena penutupan dan renovasi toko,” tulis H&M dalam laporan keuangannya, dilansir dari The Sun, Kamis (9/4/2026).

Meski demikian, perusahaan tetap melanjutkan strategi jangka panjangnya. H&M tidak sepenuhnya menghentikan ekspansi fisik, melainkan tetap membuka toko baru di lokasi strategis yang dinilai memiliki potensi tinggi.

Artinya, langkah ini lebih merupakan penataan ulang jaringan toko agar lebih efisien dan selaras dengan kebutuhan pasar, bukan sekadar pengurangan jumlah gerai.

Di sisi lain, kebijakan penutupan toko ini berpotensi berdampak pada tenaga kerja di berbagai negara. Namun, perusahaan disebut tengah menyiapkan langkah mitigasi untuk meminimalkan dampak sosial yang ditimbulkan.

Tutup