Aksi Jual Massal Seret IHSG ke Zona Merah

Ilustrasi IHSG.

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (5/6/2026) berlangsung penuh tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi pertama di zona merah setelah mengalami pelemahan signifikan sejak awal perdagangan.

Sejak dibuka pada level 5.839, IHSG sempat bergerak menguat hingga menyentuh level tertinggi harian di kisaran 5.860. Namun, tekanan jual yang semakin besar membuat indeks berbalik arah dan terus tergerus hingga menyentuh level terendah di sekitar 5.673 pada sesi siang.

Koreksi tajam tersebut mencerminkan dominasi aksi jual di hampir seluruh sektor perdagangan. Data pasar menunjukkan hanya 111 saham yang berhasil mencatatkan penguatan, sementara 588 saham mengalami penurunan dan sisanya bergerak relatif tidak berubah.

Di tengah tingginya aktivitas perdagangan, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tercatat menjadi emiten dengan nilai transaksi terbesar sepanjang sesi pertama.

Pelemahan IHSG turut dipengaruhi sentimen negatif dari pasar komoditas global, khususnya batu bara. Harga batu bara dunia tercatat mengalami koreksi setelah sebelumnya mencatat kenaikan cukup tajam dalam beberapa hari terakhir.

Penurunan harga komoditas tersebut langsung memberikan tekanan terhadap saham-saham energi di dalam negeri. Akibatnya, indeks sektor energi menjadi salah satu sektor dengan pelemahan terdalam pada perdagangan siang ini.

Selain energi, sektor transportasi juga mengalami tekanan cukup besar seiring meningkatnya aksi jual investor. Sementara itu, sektor keuangan ikut terseret ke zona merah akibat koreksi pada sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar.

Analis menilai pelaku pasar saat ini cenderung mengambil posisi hati-hati di tengah ketidakpastian global serta fluktuasi harga komoditas yang masih tinggi. Kondisi tersebut mendorong investor melakukan aksi profit taking pada sejumlah saham unggulan.

Meski demikian, aktivitas perdagangan tetap terbilang tinggi dengan nilai transaksi yang didominasi oleh saham-saham berkapitalisasi besar. Hal ini menunjukkan minat investor masih terjaga meskipun pasar sedang berada dalam fase koreksi.

Pelaku pasar kini menantikan sentimen baru, baik dari perkembangan ekonomi global maupun kebijakan domestik, yang berpotensi menentukan arah pergerakan IHSG pada perdagangan selanjutnya.

Tutup