Pesawat TNI AU Mendarat di Tol Paspro, Ini Tujuannya

Pesawat milik TNI Angkatan Udara (TNI AU).

Ruas Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro), Jawa Timur, diuji sebagai landasan alternatif bagi pesawat milik TNI Angkatan Udara (TNI AU). Pengujian ini menjadi bagian dari upaya militer menyiapkan opsi pendaratan apabila pangkalan udara atau bandara tidak dapat digunakan untuk mendukung operasi penerbangan.

Uji coba dilakukan di kilometer 834 hingga kilometer 837+500 dengan melibatkan empat pesawat, yakni dua Embraer EMB-314 Super Tucano dan dua jet tempur F-16 Fighting Falcon. Ruas tol yang digunakan memiliki lebar sekitar 24 meter.

Dua pesawat Super Tucano didatangkan dari Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh di Malang. Sementara itu, dua F-16 Fighting Falcon berasal dari Lanud Iswahjudi, Madiun.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono menjelaskan, pengujian tersebut bertujuan mengukur kesiapan operasional TNI AU dalam memanfaatkan infrastruktur jalan sebagai landasan alternatif atau alternate runway.

Menurut Tonny, kemampuan tersebut diperlukan untuk menghadapi situasi ketika fasilitas penerbangan yang biasa digunakan tidak bisa mendukung kebutuhan operasi udara.

“Uji coba ini merupakan bagian dari upaya TNI AU untuk menguji kesiapan operasional serta kemampuan kami memanfaatkan infrastruktur daerah, terutama jalan tol sebagai landasan alternatif dalam mendukung operasi udara,” kata Tonny di Probolinggo, Kamis.

Ia menambahkan, jalan tol dapat menjadi pilihan apabila landasan di bandara maupun pangkalan udara tidak lagi dapat digunakan.

“Misalnya kami sudah tidak bisa menggunakan lagi landasan atau bandara atau pangkalan udara untuk digunakan kepentingan operasi penerbangan, maka kami dapat memanfaatkan jalan tol atau infrastruktur daerah sebagai landasan alternatif atau alternate runway bagi operasi penerbangan,” ujarnya.

Uji Coba Kedua Setelah Lampung

Pengujian di Tol Paspro merupakan kegiatan serupa kedua yang dilakukan TNI AU. Sebelumnya, uji coba telah digelar di ruas Tol Terbanggi Besar, Lampung, pada 11 Februari 2026.

TNI AU menegaskan bahwa penggunaan jalan tol untuk kepentingan penerbangan tidak dilakukan secara rutin. Pemanfaatannya bersifat terbatas dan bergantung pada kebutuhan operasional serta kondisi yang dihadapi.

Aspek keselamatan pengguna jalan dan kepentingan masyarakat tetap menjadi pertimbangan. Pasalnya, fungsi utama jalan tol adalah sebagai sarana transportasi publik, sehingga penggunaannya untuk mendukung operasi udara harus memperhatikan kesiapan dan persyaratan teknis infrastruktur.

Sejumlah Ruas Tol Masuk Pemetaan

Selain Tol Pasuruan-Probolinggo, TNI AU juga mempertimbangkan sejumlah ruas lain yang berpotensi disiapkan sebagai landasan alternatif. Di antaranya Tol Cibinong-Cilincing serta rencana pembangunan jalan tol di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tonny mengatakan, pemetaan tersebut akan dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Kerja sama diperlukan untuk mengidentifikasi ruas jalan yang memenuhi persyaratan teknis untuk mendukung kebutuhan penerbangan militer.

“Ke depan, kami akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dalam pembangunan dan pemetaan jalan tol agar sejumlah ruas yang memenuhi persyaratan untuk dapat disiapkan sebagai landasan alternatif demi mendukung operasi udara,” kata Tonny.

Melalui rangkaian pengujian tersebut, TNI AU berupaya memperluas pilihan infrastruktur yang dapat digunakan dalam kondisi darurat atau situasi operasional tertentu. Namun, pemanfaatan jalan tol tetap dibatasi sesuai kebutuhan dan tidak mengubah fungsi utamanya sebagai jalur transportasi masyarakat.

Tutup