Inflasi Jakarta 0,31 Persen, Ayam Paling Berpengaruh
Pergerakan harga sejumlah kebutuhan masyarakat ikut memengaruhi laju inflasi DKI Jakarta sepanjang September 2026. Salah satu komoditas yang memberikan tekanan terbesar berasal dari daging ayam ras.
Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat inflasi sebesar 0,31 persen secara bulanan pada September 2026. Dengan capaian tersebut, inflasi Jakarta sejak awal tahun atau secara year to date mencapai 1,78 persen.
Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan, tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok tersebut mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,64 persen dan memberikan andil 0,08 persen terhadap inflasi.
“Inflasi Jakarta pada September 2026 didominasi peningkatan indeks harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau,” kata Kadarmanto dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10/2026).
Dari sejumlah komoditas dalam kelompok tersebut, daging ayam ras menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,06 persen.
Tekanan harga juga datang dari cabai rawit, masker dan bensin. Ketiganya masing-masing memberikan kontribusi sebesar 0,02 persen terhadap inflasi Jakarta.
Sementara itu, beras turut memberikan tekanan meski dengan andil yang lebih kecil, yakni sebesar 0,01 persen.
Ada Komoditas yang Justru Turunkan Harga
Di tengah kenaikan harga sejumlah barang, beberapa komoditas justru bergerak berlawanan dan memberikan kontribusi terhadap deflasi.
Penurunan harga tiket pesawat menjadi faktor yang paling besar menahan laju inflasi dengan andil deflasi sebesar 0,03 persen.
Selain tiket pesawat, bawang merah, emas perhiasan, tomat dan T-shirt pria masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa inflasi Jakarta pada September tidak terjadi secara merata pada seluruh kelompok komoditas. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan sehari-hari diimbangi oleh penurunan harga pada beberapa komoditas lainnya.
Dengan inflasi bulanan sebesar 0,31 persen, perkembangan harga pangan dan kebutuhan masyarakat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat pergerakan inflasi Jakarta pada periode berikutnya.




