Rupiah Melemah ke Rp17.936, Pasar Dibayangi Risiko Global
Nilai tukar Rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Pergerakan mata uang Garuda masih dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal, mulai dari perkembangan konflik Iran-AS hingga arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Mengutip data Bloomberg, Rupiah hingga pukul 09.40 WIB berada di level Rp17.936 per Dolar AS. Posisi tersebut melemah 20 poin atau sekitar 0,11 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai ketidakpastian global masih menjadi salah satu faktor yang membatasi pergerakan Rupiah. Perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat turut menjadi perhatian karena berpotensi berdampak terhadap pasar energi global.
“Iran dan Amerika Serikat masih berbeda pendapat mengenai cara mengakhiri perang mereka, namun diplomasi harus terus berjalan,” kata Ibrahim dalam risetnya.
Selain faktor geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed. Pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS dinilai menunjukkan sikap yang lebih hawkish, terutama di tengah kekhawatiran bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.
Ibrahim menyoroti pernyataan Deputi Gubernur The Fed Michael Barr pada Rabu yang menyebut bahwa penyesuaian kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
“Pengambil kebijakan The Fed memberikan nada hawkish dengan Deputi Gubernur Michael Barr pada hari Rabu mengatakan bahwa ‘penyesuaian kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan’ untuk mengendalikan inflasi,” jelas Ibrahim.
Dari sisi domestik, ruang kebijakan Bank Indonesia juga dinilai masih menghadapi tantangan. Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan pada September disebut belum serta-merta menghilangkan tekanan yang berasal dari kondisi eksternal.
“Para ekonom memperingatkan bahwa langkah Bank Indonesia pada bulan September untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil selama tiga bulan berturut-turut mungkin hanya merupakan jeda sementara, mengingat masih tingginya risiko eksternal akibat imbal hasil global yang meningkat, harga minyak yang fluktuatif, serta tekanan geopolitik,” jelasnya.
Pergerakan harga minyak menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya impor dan memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi. Ibrahim menyebut harga minyak yang menembus US$100 per barel berpotensi ikut memengaruhi nilai tukar.
“Kenaikan harga minyak di atas 100 Dolar AS/barel berpotensi menekan mata uang melalui meningkatnya biaya energi. Terlebih, adanya fenomena El Nino yang juga meningkatkan risiko gangguan produksi dan pasokan pangan,” tandas Ibrahim.




