Rupiah Tembus Rp17.725, Ini Faktor Pemicunya
Pergerakan rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi ketika pelaku pasar menunggu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed dalam pertemuan pekan ini.
Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.725 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 31 poin atau 0,18 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.694 per dolar AS.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan perhatian investor saat ini tertuju pada keputusan The Fed. Perbedaan pandangan mengenai arah suku bunga bank sentral AS membuat pasar mencermati setiap pernyataan pejabat The Fed menjelang pengumuman kebijakan.
Ibrahim menyebut sebagian ekonom dan analis memperkirakan peluang kenaikan suku bunga berada di kisaran 85-90 persen. Namun, ia memiliki pandangan berbeda dan menilai The Fed masih berpotensi mempertahankan tingkat suku bunga.
“Banyak pengamat yang mengatakan bahwa Bank Central Amerika dalam pertemuan nanti, Kamis pagi, Bank Central kemungkinan besar akan meningkatkan suku bunga, presentasinya itu 85-90 persen. Tetapi saya melihat bahwa Kevin Walsh dalam pertemuan tersebut kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga,” kata Ibrahim.
Ia menjelaskan pandangannya dengan merujuk pada pernyataan Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan Agustus. Saat itu, Warsh disebut menilai tingkat suku bunga AS sudah berada pada level yang tinggi setelah sebelumnya mengalami kenaikan.
Namun, arah ekspektasi pasar kembali berubah setelah Warsh menyampaikan pidato di Kongres pada awal September. Dalam kesempatan tersebut, ia menyatakan suku bunga masih dapat dinaikkan apabila tekanan inflasi belum mereda.
“Nah sehingga ini yang dijadikan sebagai acuan bagi para ekonom dan analis yang mengatakan bahwa Bank Sentral Amerika akan menaikkan suku bunga disebabkan oleh naiknya harga-harga bahan pokok termasuk energi,” jelas Ibrahim.
Menurut Ibrahim, perkembangan harga energi menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter AS. Ia menyoroti kenaikan harga bensin di Amerika Serikat yang disebut telah mencapai lebih dari 6 dolar AS per galon, dari sebelumnya sekitar 4,6-4,8 dolar AS per galon.
Kenaikan harga energi tersebut, lanjut Ibrahim, berkaitan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut dinilai dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga energi dan pada akhirnya memengaruhi inflasi global.
“Permasalahan ini kita lihat akibat dari gejolak geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas, apalagi Houthi akan melakukan serangan terhadap Arab Saudi, terutama adalah wilayah Mekah. Ini pun juga memanaskan situasi yang begitu panas,” ujarnya.
Selain perkembangan di Timur Tengah, hubungan Amerika Serikat dan Iran juga menjadi perhatian pasar. Ibrahim menyebut ketegangan kedua negara, termasuk insiden yang berkaitan dengan drone Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz, turut menjadi faktor risiko bagi pasar keuangan.
Faktor politik di Amerika Serikat juga tidak luput dari perhatian. Ibrahim menyinggung adanya tekanan Presiden Donald Trump terhadap bank sentral AS terkait arah suku bunga, sementara sebagian pejabat The Fed masih menempatkan inflasi sebagai pertimbangan utama dalam menentukan kebijakan.
“Trump melakukan intervensi bahwa Kevin Warsh tidak boleh menaikkan suku bunga, malah harus menurunkan suku bunga. Artinya apa? Bahwa intervensi dari Trump terhadap Warsh ini yang kemungkinan besar dalam pertemuan Kamis pagi, Bank Sentral Amerika kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga,” kata Ibrahim.
Dari sisi pasar domestik, Ibrahim menilai keputusan The Fed akan turut memengaruhi pergerakan rupiah dan arus modal asing. Jika suku bunga AS dipertahankan, ia memperkirakan rupiah berpotensi memperoleh sentimen positif, meski ruang penguatannya dinilai terbatas.
“Dampaknya ini pun juga akan berdampak positif terhadap penguatan mata uang Rupiah ke depan, walaupun penguatannya terbatas,” jelasnya.
Sebaliknya, apabila The Fed menaikkan suku bunga, Ibrahim memperkirakan aset berdenominasi dolar AS dapat menjadi lebih menarik bagi investor. Kondisi tersebut berpotensi mendorong sebagian dana asing keluar dari pasar Indonesia.
“Kalau seandainya Bank Sentral menaikkan suku bunga, kemungkinan besar dana-dana asing yang ada di dalam negeri Indonesia ini pun juga akan keluar kembali ke Amerika. Ini akan berdampak negatif terhadap indeks harga saham gabungan, terhadap mata uang Rupiah juga,” tandasnya.



