Ekonom Sarankan Simpan Aset dalam Dolar AS

Ilustrasi mata uang Dollar AS.(UNSPLASH/Frederick Warren)

Ketidakpastian ekonomi global dan tingginya harga minyak dunia membuat masyarakat perlu lebih selektif dalam menentukan aset untuk menjaga nilai kekayaan. Ekonom Ferry Latuhihin menilai dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan untuk menghadapi kondisi ekonomi dalam satu tahun mendatang.

Ferry melihat tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi meningkat apabila harga minyak dunia bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Pasalnya, kebutuhan impor minyak Indonesia yang cukup besar dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Menurut dia, situasi tersebut berhubungan dengan pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Besarnya kebutuhan pembayaran impor, terutama dari sektor migas, dapat membuat permintaan terhadap dolar AS semakin tinggi.

“Pembengkakan defisit transaksi berjalan kalau dilihat pada bulan Juni lalu itu current account deficit 12,4 miliar dolar AS,” kata Ferry melalui kanal YouTube Forum Keadilan TV, Senin (14/9/2026).

Data transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 tercatat mengalami defisit sekitar US$12,5 miliar atau setara 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatat defisit US$3,6 miliar atau sekitar 1 persen PDB.

Ferry menilai pelebaran defisit tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat menambah tekanan terhadap rupiah. Ketika nilai impor meningkat, kebutuhan pembayaran menggunakan dolar AS ikut bertambah sehingga permintaan valuta asing di pasar domestik berpotensi meningkat.

Ketergantungan terhadap impor minyak menjadi salah satu faktor yang menurut Ferry memperbesar tekanan tersebut. Harga minyak dunia yang tinggi akan membuat biaya impor energi ikut meningkat.

“Ini disebabkan karena kita masih mengimpor minyak. Minyak bertahan di atas 100 dolar per barrel memperbesar tagihan impor migas secara drastis sehingga permintaan pasar domestik terhadap dolar AS naik,” ujarnya.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Ferry menyarankan masyarakat yang mengutamakan keamanan aset dalam horizon satu tahun untuk mempertimbangkan dolar AS. Ia bahkan menempatkan mata uang tersebut di atas sejumlah instrumen investasi lain yang umum dipilih masyarakat.

“Sebab itu saya katakan aset yang paling aman saat ini bukan saham, bukan obligasi, bukan emas, itu nomor dua lah ya. Tapi yang paling utama kalau Anda mau aman setahun ke depan itu dolar AS,” tegasnya.

Selain dolar AS, Ferry menyebut beberapa mata uang lain yang menurutnya dapat menjadi alternatif. Dolar Australia dan dolar Singapura menjadi dua pilihan yang turut ia rekomendasikan.

“Kedua mungkin Anda bisa pilih Australian dollar, yang ketiga Singapura dollar,” tandas Ferry.

Tutup