Peta Pilpres 2029 Mulai Terbaca, Prabowo Dinilai Unggul

Eko, Prabowo, Zulhas.

Peta persaingan menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menjadi bahan pembacaan politik meski tahapan kontestasi masih cukup panjang. Sejumlah kekuatan disebut mulai membangun posisi masing-masing, sementara peluang Presiden Prabowo Subianto untuk kembali bertarung dinilai menjadi salah satu faktor utama yang akan menentukan arah koalisi.

Pengamat politik Adi Prayitno membaca setidaknya ada tiga poros yang mulai menunjukkan identitas politiknya. Ketiganya adalah Poros Hambalang yang dikaitkan dengan Prabowo, Poros Cikeas yang mengarah kepada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama Partai Demokrat, serta Poros Solo yang dikaitkan dengan Joko Widodo, PSI dan Gibran Rakabuming Raka.

Menurut Adi, kemunculan poros tersebut belum dapat dianggap sebagai bentuk koalisi permanen. Konfigurasi politik masih sangat mungkin berubah seiring perkembangan pemerintahan, hubungan antarpartai, dan munculnya figur-figur baru menjelang 2029.

Perubahan sistem pencalonan presiden juga menjadi faktor penting. Setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menghapus presidential threshold, partai politik yang memiliki kursi di parlemen memiliki peluang lebih besar untuk mengajukan pasangan calon sendiri.

“Artinya partai politik yang saat ini ada di parlemen, di luar Gerindra, partai lain ini sebenarnya sudah punya golden ticket untuk memajukan calon-calon lainnya,” ujar Adi melalui kanal YouTube, Senin (14/9/2026).

Direktur Parameter Politik Indonesia itu menilai, meski peluang tersebut terbuka, sebagian partai belum menunjukkan langkah agresif dalam menentukan kandidat. Nama-nama yang beredar pun belum sepenuhnya mengarah pada keputusan resmi mengenai siapa yang akan diusung pada Pilpres 2029.

Di tengah kondisi tersebut, hubungan antara Poros Solo dan Poros Cikeas menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Kedua kekuatan itu masih memiliki sejumlah kemungkinan, mulai dari membangun kerja sama, menjadi kompetitor, hingga sama-sama mengincar posisi calon wakil presiden untuk mendampingi Prabowo.

Dari kubu Solo, keberlanjutan duet Prabowo-Gibran hingga dua periode mulai didorong. Sementara dari kubu Cikeas, AHY disebut mulai memiliki ruang politik untuk dipertimbangkan sebagai salah satu figur yang dapat mendampingi Prabowo.

Namun, Adi mengingatkan seluruh skenario tersebut masih sangat terbuka. Politik nasional dinilai dapat berubah dalam waktu singkat sehingga hubungan antarporos yang terlihat saat ini belum tentu bertahan hingga mendekati masa pendaftaran pasangan calon.

Di sisi lain, posisi Prabowo sebagai presiden petahana dinilai memberikan modal politik yang signifikan apabila memutuskan kembali maju pada 2029. Faktor tersebut menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan kandidat yang harus membangun elektabilitas dan mesin politik dari awal.

“Tapi ingat politik kita bergerak cukup dinamis dan saya meyakini posisi Prabowo sebagai petahana akan maju kembali untuk kedua kalinya tentu relatif akan mudah untuk memenangkan pertarungan,” kata Adi.

Menurutnya, keuntungan seorang petahana bukan hanya berasal dari popularitas, tetapi juga dari jaringan politik dan perangkat pemenangan yang telah terbentuk selama masa pemerintahan.

“Karena sejarahnya di negara kita, petahana yang maju kembali kedua kalinya memiliki segala instrumen kekuatan politik, networking, tim sukses dan tim pemenangan yang rasanya jauh lebih sulit dibandingkan dengan kubu yang lain,” tandasnya.

Tutup