Jurnalis yang Viral Saat Liput Demo Kini Kena PHK
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menghantui industri media di Indonesia. Kali ini, kabar tersebut datang dari seorang jurnalis televisi, Jinawi Rana, yang mengungkap dirinya harus mengakhiri masa kerja setelah lebih dari delapan tahun mengabdi di salah satu stasiun televisi nasional.
Jinawi sempat menjadi perhatian publik beberapa waktu lalu saat melakukan siaran langsung peliputan aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta. Momen tersebut viral di media sosial dan membuat namanya dikenal luas. Namun, di balik sorotan tersebut, ia kini harus menghadapi kenyataan pahit setelah terdampak kebijakan efisiensi perusahaan.
Melalui akun Threads pribadinya, Jinawi membagikan cerita mengenai kondisi yang dialaminya. Ia mengaku tidak pernah membayangkan bahwa karier yang telah dibangun selama bertahun-tahun harus berakhir akibat gelombang PHK yang melanda industri media.
“Sedih banget. Aku sempat viral saat ngeliput demo, sebulan lalu sebelum akhirnya harus terkena layoff (PHK),” tulis Jinawi.
Dalam unggahan yang sama, ia mengungkapkan telah bekerja lebih dari delapan tahun sebagai video journalist (VJ) dengan status karyawan tetap di Kompas TV. Menurutnya, situasi yang tengah dihadapi perusahaan media membuat banyak pekerja harus menerima kenyataan sulit tersebut.
“Gak nyangka sih, aku sudah lebih dari 8 tahun bekerja sebagai video jurnalis dengan status pegawai tetap di sebuah perusahaan media besar, tapi hari ini harus menerima kenyataan bahwa perusahaan media memang sedang tidak baik-baik saja,” ungkapnya.
Jinawi juga menceritakan bahwa dirinya masih berusaha beradaptasi setelah kehilangan rutinitas yang selama ini dijalani. Ritme kerja jurnalistik yang identik dengan tenggat waktu dan mobilitas tinggi membuatnya merasa cukup terkejut ketika harus menghadapi masa tanpa pekerjaan.
Karena itu, ia memanfaatkan media sosial untuk membuka peluang baru. Ia menawarkan berbagai kemampuan yang dimilikinya, mulai dari penulisan artikel, copywriting, fotografi, videografi, hingga pekerjaan di bidang penyiaran. Selain itu, ia juga berharap ada informasi lowongan kerja dari rekan maupun masyarakat yang melihat unggahannya.
“Karena terbiasa bekerja dengan deadline setiap hari, aku shock kalau menganggur. Jadi tolong teman-teman kalau ada info lowongan kerja atau cari jasa penulisan artikel, esai, copywriting, advertising, atau mungkin fotografi-videografi (broadcast), boleh kontak aku ya. Terimakasih,” tulisnya.
Curahan hati tersebut mendapat perhatian luas dari warganet. Banyak pengguna media sosial, termasuk sesama insan pers, menyampaikan dukungan moral serta membantu menyebarkan unggahannya agar menjangkau lebih banyak pihak yang berpotensi membuka kesempatan kerja.
Kisah yang dialami Jinawi menjadi gambaran bahwa industri media nasional masih menghadapi tantangan besar. Di tengah perubahan pola konsumsi informasi dan tekanan ekonomi, sejumlah perusahaan media terus melakukan efisiensi, yang berdampak langsung pada para pekerja di sektor tersebut.




