Viral Keluhan Toko Kelontong soal KDMP
Keresahan pemilik toko kelontong terkait keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) ramai menjadi perbincangan di media sosial setelah seorang netizen mengaku mulai merasakan dampak distribusi barang yang disebut berubah sejak program tersebut berjalan. Curhatan itu viral usai diunggah melalui akun Threads @penyalincahaya_ pada 22 Mei 2026.
Dalam unggahan tersebut, netizen itu membagikan keluhan adiknya yang disebut memiliki usaha toko kelontong dan mulai kesulitan mendapatkan stok barang dari distributor besar, termasuk jaringan distribusi milik Indomarco Prismatama.
“Curhatan adikku. Buat pemilik toko-toko kelontong di kota lain harus bersiap ya. Setelah rentetan efek MBG, eh nambah lagi efek KDMP,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Pemilik toko mengaku keluarganya telah menjalankan usaha kelontong sejak 2010 dan menjadi mitra berbagai merek besar nasional. Mereka selama ini rutin mengambil stok produk kebutuhan sehari-hari dari sejumlah perusahaan besar untuk dijual kembali kepada masyarakat sekitar.
“Ibuk dan Papa punya toko dari 2010 dan udah jadi member Sampoerna, Djarum, Gudang Garam, Indomarco, Mayora, Unilever, Nestle, Wings, sampai distributor galon. Udah berapa souvenir dan paket bundling yang diambil? Banyak,” tulisnya.
Namun, menurut pengakuannya, kondisi distribusi barang saat ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebut beberapa produk mulai sulit diperoleh karena stok di distributor disebut habis dalam jumlah besar.
Netizen tersebut menduga pasokan barang terserap oleh kebutuhan KDMP dalam jumlah besar sehingga toko-toko kecil mulai kesulitan mendapatkan barang tertentu. Meski demikian, belum ada penjelasan resmi dari pihak distributor maupun pengelola KDMP terkait dugaan tersebut.
“Baru sekarang ngerasain susah ambil barang. Bahkan terang-terangan dibilang stok Indomarco habis diambil KDMP,” lanjut unggahan itu.
Curhatan tersebut langsung menuai beragam respons dari warganet. Sebagian mengaku mengalami kondisi serupa, terutama pelaku usaha kecil yang bergantung pada distribusi barang dari agen besar. Namun ada pula yang meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan sebelum ada penjelasan resmi dari pihak terkait.
Program Koperasi Desa Merah Putih sendiri sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu upaya memperkuat distribusi kebutuhan pokok dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Namun, di lapangan, muncul kekhawatiran dari pelaku usaha kecil terkait potensi perubahan pola distribusi barang.
Pengamat ekonomi menilai pemerintah perlu memastikan kebijakan distribusi dan penguatan koperasi tidak justru memunculkan ketimpangan baru di tingkat pelaku usaha mikro. Transparansi rantai pasok dan kepastian akses barang dinilai penting agar toko kecil tetap dapat bertahan.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak KDMP maupun distributor terkait keluhan yang viral di media sosial tersebut.





