Turki Desak Penghentian Konflik Iran-Israel
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, melontarkan kritik keras terhadap Israel yang dinilai memperkeruh upaya penyelesaian konflik di kawasan.
Dalam pidato resminya pada Selasa (24/3/2026), Erdogan menilai langkah Israel justru berpotensi menggagalkan jalur diplomasi yang tengah diupayakan untuk meredakan ketegangan dengan Iran.
Ia menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui dialog terbuka dan negosiasi serius, bukan melalui eskalasi militer yang berkelanjutan.
“Tidak ada negara yang menghargai perdamaian dunia boleh terus menambah bahan bakar ke dalam api yang dinyalakan Israel secara tidak adil di kawasan kita,” tegas Erdogan.
Erdogan juga mengingatkan negara-negara lain agar tidak ikut memperkeruh situasi dengan memberikan dukungan terhadap tindakan yang berpotensi memperpanjang konflik.
Di tengah kritik tersebut, Amerika Serikat dilaporkan mengajukan proposal gencatan senjata yang terdiri dari 15 poin kepada Iran melalui jalur diplomatik tidak langsung, dengan Pakistan sebagai perantara.
Namun, langkah diplomasi itu berjalan beriringan dengan peningkatan aktivitas militer Washington di kawasan. Amerika Serikat disebut mulai mengerahkan pasukan tambahan, termasuk unit penerjun payung, untuk memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah.
Penguatan ini juga dikaitkan dengan rencana kedatangan unit Marinir dalam waktu dekat, yang dinilai sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan eskalasi konflik.
Di sisi lain, respons dari Teheran terbilang keras. Militer Iran dilaporkan merespons dingin proposal tersebut, bahkan meningkatkan intensitas serangan ke target-target yang berkaitan dengan Israel dan kawasan Teluk.
Situasi ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menghadapi tantangan besar. Ketidaksinkronan antara pendekatan militer dan negosiasi membuat proses perdamaian berjalan tidak mulus.
Seiring konflik yang mendekati satu bulan, tekanan internasional terhadap Amerika Serikat untuk segera mendorong penyelesaian damai semakin meningkat.




