Siswa Diduga Keracunan MBG, SMA Negeri 1 Berastagi Diliburkan
Proses pemulihan ratusan siswa SMA Negeri 1 Berastagi, Kabupaten Karo, masih berlangsung setelah mereka mengalami gangguan kesehatan yang diduga terjadi usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga Jumat (14/8/2026) pagi, sebanyak 143 dari 147 siswa yang terdampak masih menjalani perawatan di empat rumah sakit. Mereka mendapat penanganan medis di RS Efarina, RS Amanda, RSU Kabanjahe, dan RS Mina Kabanjahe.
Kondisi tersebut membuat pihak sekolah memutuskan menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar. Kebijakan itu diambil agar perhatian sekolah dapat difokuskan pada kondisi kesehatan para siswa.
Kepala SMAN 1 Berastagi, Normawati Martiana Ginting, mengatakan guru-guru sekolah masih dikerahkan untuk memantau siswa di rumah sakit. Penugasan tersebut dilakukan dengan membagi guru ke sejumlah fasilitas kesehatan.
“Seperti hari pertama setelah kejadian, saya telah menugaskan dan membagi para guru ke empat rumah sakit. Hari ini juga begitu, para guru saya tugaskan ke empat rumah sakit,” ujar Martiana.
Menurut Martiana, pihak sekolah kini lebih memprioritaskan proses pemulihan siswa sebelum kembali menjalankan kegiatan belajar seperti biasa.
“Harapan kami semua anak-anak ini sehat kembali, sehingga mereka bisa kembali ke sekolah seperti biasa,” katanya.
Penanganan terhadap para siswa saat kejadian berlangsung mendapat dukungan dari berbagai pihak. Martiana menyebut masyarakat, Forkopimda, TNI, dan Polri turut membantu proses evakuasi.
Sejumlah ambulans dari wilayah Berastagi dan Kabanjahe juga dikerahkan untuk membawa siswa yang membutuhkan pertolongan medis ke rumah sakit.
“Luar biasa, semua datang membantu kami. Semua ambulans, baik dari Kabanjahe maupun Berastagi, datang ke sekolah. Pihak Polri, TNI, semua cepat tanggap,” ujarnya.
Setelah dievakuasi, para siswa langsung mendapat penanganan di fasilitas kesehatan. Sementara sekolah terus berkoordinasi dengan pihak rumah sakit untuk memantau perkembangan kondisi mereka.
Dampak kejadian tersebut tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan. Sejumlah siswa juga mengaku mulai khawatir untuk kembali mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program MBG.
Beberapa pelajar bahkan memilih membawa bekal sendiri dari rumah karena masih merasa takut mengalami gangguan kesehatan.
“Nggak mau lagi (makan), nanti keracunan pulak. Mending kami bawa bontot sendiri dari rumah,” ujar sejumlah pelajar.
Kekhawatiran tersebut muncul meski sebagian siswa mengaku tidak sempat mengonsumsi menu MBG saat kejadian. Mereka tetap merasa cemas setelah melihat sejumlah teman mereka harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Untuk sementara, pihak sekolah masih memusatkan perhatian pada kondisi para siswa yang menjalani perawatan. Kegiatan belajar mengajar akan kembali dilakukan setelah kondisi dinilai memungkinkan.
Sementara itu, dugaan penyebab gangguan kesehatan para siswa masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan penelusuran pihak terkait.



