Sektor Manufaktur Paling Rentan Terkena PHK

Ilustrasi PHK. Foto: Freepik

Center of Reform on Economics memperingatkan potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tambahan di tengah tekanan ekonomi global dan meningkatnya biaya produksi di berbagai sektor usaha. Berdasarkan hasil simulasi ekonomi yang dilakukan lembaga tersebut, jumlah pekerja yang berisiko terdampak PHK diperkirakan mencapai puluhan ribu orang.

Dalam laporan terbarunya bertajuk Badai PHK (Belum) Berlalu, CORE memperkirakan tambahan PHK dapat mencapai sekitar 15.250 hingga 20.260 pekerja. Perhitungan tersebut menggunakan simulasi tabel input-output Badan Pusat Statistik tahun 2020 untuk melihat dampak tekanan biaya terhadap aktivitas industri dan ketenagakerjaan.

Sektor manufaktur disebut menjadi bidang yang paling rentan mengalami pengurangan tenaga kerja. CORE memperkirakan jumlah pekerja yang berpotensi terkena PHK di sektor tersebut mencapai 8.690 hingga 12.120 orang.

Selain manufaktur, sektor jasa juga diprediksi menghadapi tekanan cukup besar dengan estimasi tambahan PHK sekitar 3.250 sampai 4.500 pekerja. Sementara sektor pertanian diperkirakan terdampak sekitar 3.320 hingga 3.640 pekerja.

CORE menilai situasi ekonomi global yang belum stabil, kenaikan biaya produksi, hingga lemahnya permintaan pasar menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko pengurangan tenaga kerja di dalam negeri.

Karena itu, lembaga riset tersebut mendorong pemerintah memperkuat peran Satuan Tugas (Satgas) Mitigasi PHK agar mampu bertindak lebih cepat dalam membaca ancaman gelombang pemutusan kerja.

Menurut CORE, Satgas Mitigasi PHK seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai forum koordinasi, tetapi juga menjadi sistem peringatan dini untuk memantau kondisi pasar tenaga kerja secara lebih responsif.

“Satgas Mitigasi PHK perlu diperkuat dan difungsikan sebagai sistem peringatan dini guna membaca kondisi pasar tenaga kerja secara lebih cepat,” tulis CORE dalam laporannya.

Tutup