Riwayat Upah Rendah Dikaitkan dengan Risiko Kematian

Uang

Upah rendah tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal JAMA menemukan adanya hubungan antara riwayat menerima upah rendah dalam jangka panjang dengan meningkatnya risiko kematian.

Penelitian tersebut mengamati sekitar 4.000 pekerja di Amerika Serikat dengan melihat riwayat penghasilan mereka selama 12 tahun. Para peneliti kemudian membandingkan tingkat risiko kematian berdasarkan pola upah yang diterima para pekerja selama periode penelitian.

Hasilnya menunjukkan pekerja yang secara terus-menerus berada dalam kondisi upah rendah memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan pekerja yang tidak pernah mengalami kondisi tersebut.

Setelah memperhitungkan sejumlah faktor sosial dan demografis, pekerja dengan riwayat upah rendah secara berkelanjutan tercatat memiliki risiko kematian sekitar 35 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak pernah menerima upah rendah.

Risiko tersebut juga terlihat lebih tinggi pada pekerja yang mengalami kombinasi antara upah rendah dan ketidakstabilan pekerjaan. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi dan lingkungan kerja dalam jangka panjang dapat menjadi bagian penting dalam melihat kesehatan pekerja.

Namun, hasil penelitian tersebut tidak dapat diartikan bahwa gaji rendah secara langsung menyebabkan seseorang meninggal lebih cepat.

Bukan Berarti Gaji Rendah Sebabkan Kematian

Para peneliti menemukan adanya hubungan antara riwayat upah rendah dan risiko kematian, tetapi penelitian tersebut tidak serta-merta membuktikan hubungan sebab-akibat.

Ada sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan pekerja. Faktor tersebut antara lain kondisi ekonomi, jenis pekerjaan, stabilitas pekerjaan, akses terhadap layanan kesehatan hingga kondisi kesehatan seseorang.

Pendapatan yang rendah juga dapat membuat pekerja menghadapi tekanan ekonomi lebih besar. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat beriringan dengan berbagai persoalan sosial dan pekerjaan yang turut memengaruhi kesehatan.

Karena itu, persoalan upah tidak cukup dilihat hanya dari nominal pendapatan yang diterima setiap bulan. Stabilitas pekerjaan dan kondisi sosial-ekonomi pekerja juga menjadi bagian penting dalam memahami dampaknya terhadap kehidupan dalam jangka panjang.

Temuan penelitian tersebut sekaligus membuka pembahasan lebih luas mengenai hubungan antara kesejahteraan ekonomi dan kesehatan masyarakat. Para peneliti menyebut kebijakan yang mampu memperbaiki kondisi finansial pekerja berupah rendah berpotensi memberikan manfaat kesehatan apabila hubungan yang ditemukan dalam penelitian tersebut nantinya terbukti bersifat sebab-akibat.

Dengan demikian, anggapan bahwa “orang bergaji rendah lebih cepat meninggal” merupakan penyederhanaan dari hasil penelitian. Temuan studi tersebut tidak menyatakan setiap pekerja dengan pendapatan rendah pasti memiliki usia hidup lebih pendek.

Yang ditunjukkan penelitian adalah adanya kaitan antara riwayat upah rendah dalam jangka panjang dengan risiko kematian yang lebih tinggi, sementara faktor penyebabnya masih perlu dipahami melalui penelitian lebih lanjut.

Tutup