Mediasi Insanul dan Mawa Gagal

Wardatina Mawa dan Kuasa Hukum.

Konflik rumah tangga antara Insanul Fahmi dan Wardatina Mawa hingga kini masih menjadi sorotan publik. Perselisihan yang awalnya dipicu dugaan hubungan pihak ketiga terus melebar hingga berujung pada proses perceraian di jalur hukum.

Isu tersebut semakin memanas setelah muncul kabar yang mengaitkan Insanul dengan Inara Rusli. Dugaan tersebut memperkeruh situasi dan memperdalam konflik yang terjadi di antara pasangan tersebut.

Saat ini, perkara perceraian keduanya tengah ditangani di Pengadilan Agama Medan. Namun, upaya mediasi yang diharapkan bisa menjadi jalan damai justru tidak membuahkan hasil.

Wardatina disebut tetap pada keputusannya untuk berpisah. Sikap tersebut membuat proses hukum terus berlanjut tanpa adanya titik temu di antara kedua belah pihak.

Di tengah situasi yang semakin kompleks, Insanul mengungkapkan kesulitannya untuk bertemu dengan anak-anaknya. Ia mengaku hingga kini belum mendapatkan izin dari sang istri.

“Belum sih, kemarin sempat ingin ketemu tapi tidak dikasih. Saya juga tidak tahu kenapa,” ujar Insanul, Selasa (24/3).

Ia mengaku tidak memahami alasan di balik pembatasan tersebut. Kondisi ini membuatnya memilih untuk tidak lagi memperdebatkan situasi dan lebih pasrah menjalani proses yang ada.

“Saya juga kurang paham. Jujur sudah capek, jadi sekarang lebih memilih mengikuti saja alurnya,” katanya.

Insanul menyebut pertemuan terakhir dengan anak-anaknya terjadi saat mereka bermain bersama di sebuah arena permainan. Setelah momen tersebut, komunikasi disebut terhenti.

“Terakhir ketemu waktu main di tempat mandi bola. Setelah itu sudah tidak ada respons lagi,” ungkapnya.

Ia juga sempat menyinggung dinamika komunikasi yang sempat terjadi melalui media sosial. Menurutnya, akses untuk bertemu anak sempat terbuka, namun tidak berlangsung lama.

“Waktu itu sempat dikasih setelah ramai di media sosial, tapi setelah itu tidak lagi,” ujarnya.

Bagi Insanul, momen yang paling terasa berat adalah saat perayaan Idulfitri. Di saat kebanyakan orang berkumpul bersama keluarga, ia justru harus menghadapi kenyataan tidak bisa bertemu anak-anaknya.

Berita Lainnya

Tutup