Lula Kembali Menang Pilpres Brasil, Kalahkan Flavio Bolsonaro

Luiz Inácio

Luiz Inácio Lula da Silva kembali memenangkan pemilihan presiden Brasil setelah mengalahkan Senator Flávio Bolsonaro dalam putaran kedua yang berlangsung pada Minggu (25/10/2026). Kemenangan ini mengantarkan Lula menuju periode keempatnya sebagai kepala negara sekaligus mencatat sejarah baru dalam perjalanan demokrasi Brasil.

Berdasarkan hasil resmi pemilihan, Lula memperoleh 51,79 persen suara sah, sedangkan Flávio Bolsonaro meraih 48,21 persen. Lula mengumpulkan 64.256.232 suara, unggul sekitar 4,4 juta suara dari pesaingnya yang memperoleh 59.826.041 suara.

Hasil tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan politik Lula. Ia berhasil membalikkan posisi setelah berada di urutan kedua pada putaran pertama yang digelar 4 Oktober 2026. Dalam sejarah pemilihan presiden langsung Brasil sejak 1989, kemenangan Lula menjadi yang pertama ketika kandidat yang kalah pada putaran pertama berhasil mengungguli lawannya pada putaran kedua.

Dengan hasil itu, Lula akan menjalani masa jabatan keempat yang tidak berurutan. Sebelumnya, ia memimpin Brasil pada periode 2003–2010 dan kembali terpilih pada 2022. Masa jabatan terbarunya dijadwalkan dimulai pada 5 Januari 2027.

Dalam pidato di hadapan pendukungnya di São Paulo, Lula menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang memberikan dukungan. Ia juga menyoroti peran generasi muda dalam mempertahankan demokrasi Brasil, termasuk melalui aksi-aksi publik selama masa kampanye.

Perjalanan Lula, dari Keluarga Miskin hingga Istana Kepresidenan

Lula lahir pada 27 Oktober 1945 di Garanhuns, Pernambuco, Brasil. Tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi, ia menjalani masa muda dengan bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Pengalaman tersebut kemudian turut membentuk keterlibatannya dalam gerakan buruh dan perjuangan terkait kesejahteraan pekerja.

Sebelum terjun ke politik, Lula pernah berjualan kacang dan bekerja di sejumlah pabrik. Ia kemudian aktif dalam organisasi serikat pekerja dan dikenal sebagai salah satu tokoh penting gerakan buruh pada masa pemerintahan militer Brasil.

Pada 1980, Lula ikut mendirikan Partai Buruh atau Partido dos Trabalhadores (PT). Partai tersebut menjadi kendaraan politiknya untuk memperjuangkan kebijakan yang berorientasi pada pekerja dan kelompok berpenghasilan rendah.

Karier politiknya mencapai puncak ketika ia memenangkan pemilihan presiden pada 2002. Lula dilantik pada 2003 dan menjadi presiden Brasil dengan latar belakang sebagai pekerja industri. Ia kembali memenangkan pemilihan pada 2006 untuk masa jabatan kedua.

Selama dua periode awal pemerintahannya, Lula dikenal melalui sejumlah program sosial untuk mengurangi kemiskinan. Salah satunya adalah Bolsa Família, program bantuan tunai bagi keluarga berpenghasilan rendah yang menjadi bagian penting dari kebijakan kesejahteraan sosial Brasil.

Pernah Dipenjara dalam Perkara Korupsi

Perjalanan politik Lula juga diwarnai persoalan hukum. Namanya terseret dalam penyelidikan antikorupsi besar-besaran yang dikenal sebagai Operasi Cuci Mobil atau Operation Car Wash, yang mulai mencuat pada 2014.

Lula kemudian dinyatakan bersalah dalam perkara korupsi dan menjalani hukuman penjara. Namun, pada Maret 2021, Mahkamah Agung Federal Brasil membatalkan putusan hukuman terhadapnya sehingga membuka jalan bagi dirinya untuk kembali mengikuti pemilihan presiden.

Pada pemilihan 2022, Lula mengalahkan Presiden Jair Bolsonaro dan kembali menduduki jabatan presiden. Kemenangan tersebut menandai kembalinya ia ke panggung politik nasional setelah bertahun-tahun menghadapi proses hukum dan kehilangan hak untuk maju dalam pemilihan.

Kemenangan pada 2026 atas Flávio Bolsonaro kembali memperpanjang kiprah politiknya. Hasil tersebut sekaligus mempertahankan posisi Lula sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam politik Brasil.

Agenda Lula pada Masa Jabatan Keempat

Pada periode pemerintahan berikutnya, Lula diperkirakan tetap menghadapi sejumlah tantangan, termasuk persoalan ekonomi, ketimpangan sosial, dan keamanan publik. Ia juga perlu menjaga dukungan politik di tengah masyarakat yang terbelah dalam persaingan antara kelompok kiri dan kanan.

Dalam kebijakan domestik, Lula dikenal mendukung program kesejahteraan sosial, perlindungan pekerja, dan peran pemerintah dalam perekonomian. Sementara di tingkat internasional, ia mendorong keterlibatan Brasil dalam kerja sama multilateral, termasuk melalui kelompok BRICS dan kemitraan dengan negara-negara berkembang.

Kemenangan terbaru ini memberi Lula mandat baru untuk melanjutkan agenda pemerintahannya. Namun, keberhasilan pelaksanaan program tersebut akan bergantung pada kemampuan pemerintah menjawab persoalan ekonomi, memperkuat kebijakan sosial, serta membangun dukungan di tengah dinamika politik nasional.

Dengan masa jabatan keempat yang akan dimulai pada Januari 2027, perhatian kini tertuju pada langkah Lula dalam memimpin Brasil selama empat tahun ke depan.

Tutup