Kurs Rupiah Melemah pada Perdagangan Jumat
Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Jumat (15/5/2026) ke level Rp17.614 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut turun 84 poin atau sekitar 0,48 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang global dan regional di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Sejumlah mata uang Asia tercatat berada di zona merah pada perdagangan pagi, di antaranya won Korea Selatan, baht Thailand, ringgit Malaysia, yen Jepang, hingga dolar Singapura. Tekanan serupa juga dialami mata uang utama dunia seperti euro, poundsterling Inggris, dolar Australia, dan dolar Kanada.
Analis pasar uang, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi penguatan indeks dolar AS yang kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Lukman, pasar saat ini masih mencermati perkembangan pertemuan antara Presiden China, Xi Jinping, dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Optimisme pasar terhadap pertemuan tersebut disebut turut menopang penguatan dolar AS, meskipun belum ada pernyataan resmi terkait hasil pembicaraan kedua pemimpin negara itu.
“Rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS seiring penguatan indeks dolar di tengah optimisme pasar terhadap pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump,” ujar Lukman.
Selain faktor geopolitik dan sentimen global, pasar juga merespons data inflasi Amerika Serikat yang tercatat lebih tinggi dari perkiraan analis. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Ekspektasi kenaikan atau penahanan suku bunga AS biasanya mendorong investor kembali masuk ke aset berbasis dolar karena dinilai lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung mengalami tekanan.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini berada di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS seiring pasar masih menunggu perkembangan sentimen global dan arah kebijakan moneter AS selanjutnya.




