Korut Kembali Luncurkan Rudal Balistik ke Laut Timur

[DW Indonesia].

Korea Utara kembali melakukan uji coba rudal balistik ke arah Laut Timur pada Sabtu (3/10/2026). Peluncuran tersebut terdeteksi militer Korea Selatan saat aktivitas proyektil dilaporkan berlangsung dari wilayah pesisir timur Korea Utara.

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) menyebut peluncuran terdeteksi sekitar pukul 06.30 waktu setempat dari kawasan Wonsan. Proyektil kemudian bergerak menuju Laut Timur, sementara militer masih melakukan analisis untuk memastikan jenis rudal dan karakteristik penerbangannya.

Menurut laporan Associated Press, rudal tersebut diperkirakan menempuh jarak lebih dari 700 kilometer sebelum jatuh di luar zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang. Rincian mengenai titik jatuh dan spesifikasi rudal masih dianalisis oleh militer Korea Selatan dan Amerika Serikat.

JCS mengatakan Seoul langsung memperketat pemantauan terhadap aktivitas militer Korea Utara setelah peluncuran terdeteksi. Koordinasi informasi juga dilakukan bersama Amerika Serikat dan Jepang sebagai bagian dari upaya mengantisipasi kemungkinan adanya peluncuran lanjutan.

“Militer Korea Selatan telah meningkatkan pengawasan terhadap kemungkinan peluncuran tambahan dan mempertahankan kesiapsiagaan penuh sembari berbagi informasi terkait dengan Amerika Serikat dan Jepang,” demikian pernyataan JCS.

Peluncuran pada Sabtu tersebut menambah daftar aktivitas rudal Korea Utara dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, pada 20 September, Pyongyang juga dilaporkan menembakkan dua rudal balistik jarak pendek dari Wonsan menuju Laut Timur.

Kedua proyektil dalam peluncuran sebelumnya disebut terbang ke arah perairan di luar ZEE Jepang. Dengan demikian, aktivitas terbaru kembali menjadi perhatian Seoul, Washington, dan Tokyo karena berlangsung dalam periode yang relatif berdekatan.

Situasi tersebut terjadi ketika hubungan Korea Utara dan Korea Selatan masih diwarnai ketegangan di sepanjang perbatasan. Perselisihan juga muncul setelah insiden ledakan ranjau di wilayah zona demiliterisasi (DMZ) yang menyebabkan sejumlah tentara Korea Selatan terluka.

Korea Selatan sebelumnya menuding ranjau yang dipasang Korea Utara menjadi penyebab insiden tersebut. Seoul kemudian mendesak Pyongyang menghentikan aktivitas fortifikasi di kawasan perbatasan.

Namun, tudingan tersebut dibantah Kim Yo-jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Ia menolak klaim Seoul dan menyebut tuduhan yang diarahkan kepada Pyongyang tidak berdasar.

Di tengah saling bantah tersebut, militer Korea Selatan tetap meningkatkan pemantauan terhadap aktivitas Korea Utara. Seoul juga mempertahankan koordinasi dengan Washington dan Tokyo untuk bertukar informasi mengenai perkembangan militer Pyongyang.

Peluncuran rudal terbaru itu menjadi perkembangan lain yang menunjukkan masih tingginya aktivitas militer Korea Utara di kawasan Semenanjung Korea. Hingga kini, militer Korea Selatan dan Amerika Serikat masih menganalisis karakteristik proyektil serta kemungkinan adanya aktivitas lanjutan dari Pyongyang.

Tutup