Fesyen Lokal Makin Tumbuh Lewat Konten Digital

discovery commerce

Perkembangan perdagangan digital ikut mengubah cara konsumen menemukan dan membeli produk fesyen. Konten video pendek, sesi live shopping, hingga kolaborasi dengan kreator kini menjadi bagian dari ekosistem yang mempertemukan jenama lokal dengan calon pembeli.

President Director Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia Stephanie Susilo mengatakan model perdagangan berbasis penemuan konten digital atau discovery commerce memiliki peluang untuk mendorong pertumbuhan industri fesyen lokal.

“Model perdagangan daring berbasis penemuan konten digital, discovery commerce, berpotensi mengakselerasi pertumbuhan industri fesyen lokal,” kata Stephanie dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan data perusahaan, nilai transaksi kategori fesyen pada Semester I 2026 tercatat meningkat 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, jumlah kreator fesyen juga tumbuh 74 persen.

Kenaikan turut terlihat dari transaksi yang dihasilkan kreator fesyen. Nilai transaksi di TikTok Shop yang berasal dari aktivitas kreator fesyen meningkat 95 persen dibandingkan Semester I 2025.

Pada 2026, pakaian pria, pakaian wanita, dan aksesori tercatat sebagai kategori fesyen dengan pertumbuhan nilai transaksi tertinggi di TikTok Shop. Pertumbuhan transaksi produk fesyen juga tercatat di sejumlah wilayah, termasuk Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Barat, dan Gorontalo.

Konten Jadi Pintu Masuk Produk Fesyen

Perubahan pola konsumsi tersebut terlihat dari semakin beragamnya konten fesyen yang beredar di platform digital. Tren seperti gorpcore, misalnya, memadukan elemen pakaian dan perlengkapan outdoor dengan gaya streetwear yang banyak digunakan anak muda.

Sementara pada fesyen wanita, format konten seperti GRWM (Get Ready With Me), OOTD (Outfit of the Day), dan “3 Ways to Style” memberikan inspirasi kepada pengguna mengenai cara memadukan maupun menggunakan suatu produk.

Stephanie mengatakan pola tersebut menunjukkan bahwa konten tidak lagi hanya berfungsi sebagai hiburan atau referensi gaya, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk konsumen untuk menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhannya.

Di sisi lain, pertumbuhan ekosistem fesyen digital berjalan seiring dengan perkembangan sektor fesyen dan kriya secara nasional. Data Kementerian Perindustrian mencatat PDB sektor fesyen dan kriya mencapai Rp120,13 triliun pada triwulan I 2026.

Angka tersebut tumbuh 7,89 persen dibandingkan triwulan I 2025. Sektor ini juga tercatat menyerap 3,69 juta tenaga kerja yang berasal dari 1,75 juta pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Pelaku Lokal Manfaatkan Ekosistem Digital

Melihat perkembangan tersebut, pelaku usaha fesyen lokal mulai memanfaatkan konten dan live shopping sebagai bagian dari strategi pemasaran. Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia juga menghadirkan Fashion Playground untuk membantu jenama fesyen lokal memanfaatkan ekosistem konten dalam memperluas jangkauan pasar.

Salah satu pelaku usaha yang memanfaatkan strategi tersebut adalah ANTARESTAR. Jenama fesyen tersebut disebut telah mencatat omzet bulanan hingga miliaran rupiah pada 2026.

Founder ANTARESTAR Faiz Daffa mengatakan pertumbuhan tersebut didukung oleh konsistensi melakukan sesi LIVE hingga 24 jam serta kolaborasi dengan affiliate creator. Strategi tersebut digunakan untuk mempromosikan berbagai produk fesyen outdoor yang menyasar konsumen anak muda, termasuk jaket gunung.

ANTARESTAR kini memberdayakan lebih dari 100 karyawan dan bekerja sama dengan 60 konveksi di berbagai daerah.

“Bagi kami, pertumbuhan bisnis juga berarti membuka lebih banyak peluang bagi ekosistem fesyen lokal untuk berkembang bersama,” ujar Faiz, yang mulai membangun jenama tersebut sejak 2019.

Pengalaman serupa juga dirasakan KUKAI. Pendiri KUKAI, Sharon, mulai merintis bisnis tersebut ketika masih menjadi mahasiswa pada 2022.

Dari yang awalnya dikelola sendiri, KUKAI kini telah berkembang dengan 57 karyawan. Sharon mengatakan konten video pendek dan sesi LIVE menjadi salah satu sarana penting untuk membangun antusiasme konsumen, terutama ketika jenama tersebut meluncurkan koleksi baru.

“Video pendek dan sesi LIVE sangat membantu bisnis kami, khususnya untuk membangun antusiasme konsumen terutama saat meluncurkan koleksi terbaru,” kata Sharon.

Pada 2026, hampir 50 persen nilai transaksi KUKAI di platform tersebut berasal dari sesi LIVE. Bahkan, beberapa koleksi terbaru disebut dapat terjual habis hanya dalam 30 menit pertama sesi LIVE.

Momentum Ramadan 2026 juga memberikan dampak terhadap penjualan KUKAI. Pada periode tersebut, omzet perusahaan diklaim meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan kondisi pada periode normal.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian pelaku fesyen lokal, konten digital dan perdagangan berbasis penemuan tidak lagi sekadar menjadi kanal promosi. Keduanya mulai digunakan sebagai bagian dari strategi untuk membangun komunitas konsumen, memperkenalkan produk, hingga memperluas skala bisnis.

Tutup