Kejanggalan Kasus Andrie Yunus Picu Dugaan Framing

Andrie Yunus dilaporkan mengalami luka bakar sebanyak 24 persen dari tubuhnya. (Koleksi KontraS)

Isu pembentukan opini publik atau framing kembali mencuat di tengah dinamika kasus hukum yang menyita perhatian masyarakat. Praktisi hukum Agus Widjajanto menilai, fenomena ini kerap dimanfaatkan untuk menggiring persepsi publik, bahkan berpotensi memicu ketegangan dalam konteks politik maupun keamanan.

Menurut Agus, praktik framing bukanlah hal baru dalam sejarah global. Ia mencontohkan bagaimana narasi tertentu pernah digunakan dalam konflik internasional untuk memengaruhi keputusan politik, termasuk dalam kasus yang melibatkan Amerika Serikat dan berujung pada runtuhnya kekuasaan Saddam Hussein.

“Dalam banyak kasus, opini publik dibentuk terlebih dahulu sebelum langkah besar diambil. Itu yang perlu dicermati,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Ia kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus yang kini tengah diselidiki. Agus menilai terdapat sejumlah hal yang tidak lazim dan memunculkan pertanyaan di ruang publik.

Salah satunya adalah keberadaan rekaman CCTV yang masih utuh, yang menurutnya tidak sejalan dengan pola aksi yang disebut terencana. Selain itu, ia juga menyoroti proses pengungkapan pelaku yang berlangsung relatif cepat.

“Kalau benar terorganisasi dengan baik, biasanya ada upaya menghilangkan jejak. Ini yang kemudian memunculkan tanda tanya,” katanya.

Tak hanya itu, motif dari peristiwa tersebut juga dinilai belum tergambar secara jelas. Agus mempertanyakan arah dan tujuan dari tindakan tersebut, terutama dalam kaitannya dengan situasi politik dan regulasi yang baru saja disahkan, termasuk Undang-Undang TNI.

Di sisi lain, aparat penegak hukum menyebut bahwa kejadian tersebut mengarah pada tindakan yang direncanakan. Penilaian serupa juga disampaikan oleh kalangan legislatif yang melihat adanya indikasi keterlibatan pihak tertentu secara terstruktur.

Meski demikian, Agus mengingatkan bahwa sebuah aksi yang benar-benar dirancang secara sistematis umumnya memiliki tujuan yang jelas serta perhitungan risiko yang matang. Ketidakjelasan motif justru membuka ruang bagi berbagai spekulasi.

Ia memaparkan sejumlah kemungkinan yang berkembang, mulai dari upaya membangun persepsi negatif terhadap lembaga tertentu, pengalihan perhatian publik dari isu lain, hingga adanya pihak yang sengaja menciptakan narasi untuk melemahkan kepercayaan terhadap Tentara Nasional Indonesia dan pemerintah.

“Dalam situasi seperti ini, masyarakat harus lebih kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi,” ujarnya.

Di tengah berbagai spekulasi tersebut, Agus mengapresiasi langkah cepat yang diambil TNI dalam merespons kasus ini. Menurutnya, keterbukaan informasi menjadi langkah penting dalam menjaga kepercayaan publik.

“Pendekatan yang transparan menunjukkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik dalam tata kelola institusi,” katanya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa seluruh analisis yang berkembang saat ini masih bersifat dugaan dan belum dapat dijadikan kesimpulan. Oleh karena itu, proses hukum harus tetap menjadi rujukan utama.

“Masyarakat sebaiknya menunggu hasil penyelidikan resmi. Jangan sampai terpecah karena narasi yang belum tentu benar,” pungkasnya.

Tutup