Jemaah Haji Indonesia Diminta Perkuat Fisik
Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, Hidayat Nur Wahid, mengingatkan jemaah Indonesia agar lebih disiplin menjaga kondisi kesehatan fisik maupun mental. Kepadatan Kota Makkah yang terus meningkat dinilai membuat risiko kelelahan dan gangguan kesehatan semakin tinggi, terutama bagi jemaah lanjut usia.
Hidayat menilai fase menjelang Armuzna merupakan masa paling menentukan dalam seluruh rangkaian ibadah haji. Pada periode ini, jutaan jemaah dari berbagai negara mulai terpusat di Makkah, sementara sebagian besar jemaah telah mengalami penurunan stamina akibat aktivitas ibadah dan cuaca panas ekstrem.
“Menjelang Armuzna memang semakin banyak sekali jamaah yang berkumpul di Makkah. Sementara jamaah pun juga mungkin sebagian daripada fisiknya sudah mulai capek,” ujar Hidayat dalam keterangannya, Minggu, 24 Mei 2026.
Politikus PKS tersebut mengapresiasi langkah petugas haji yang mengimbau jemaah untuk lebih banyak beristirahat di pemondokan dibanding melakukan aktivitas berat di luar area hotel. Menurutnya, menjaga energi menjelang Armuzna jauh lebih penting demi kelancaran pelaksanaan ibadah puncak haji.
Ia secara khusus meminta jemaah lansia agar tidak memaksakan diri menuju Masjidil Haram apabila kondisi tubuh tidak memungkinkan. Selain suhu udara yang tinggi, jarak tempuh dan kepadatan kawasan sekitar masjid dinilai dapat membahayakan kesehatan jemaah berusia lanjut.
“Tidak kemudian memaksakan diri untuk keluar pemondokan, ke Masjidil Haram yang mungkin jalannya tidak sangat dekat, sementara cuacanya sangat panas,” katanya.
Selain persoalan fisik, Hidayat juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dan stabilitas psikologis selama berada di Tanah Suci. Ia meminta jemaah memanfaatkan waktu menjelang Armuzna untuk memperbanyak ibadah, memperdalam pemahaman manasik, serta memperkuat komunikasi antarkelompok jemaah.
“Kesempatan ini dimaksimalkan untuk mempersiapkan diri haji secara lebih maksimal. Baik dalam konteks kesehatan fisik termasuk juga kesehatan mental dan kesehatan psikis,” jelas Wakil Ketua MPR RI tersebut.
Peringatan itu disampaikan setelah muncul kasus jemaah asal Jakarta, Muhammad Firdaus Akhlan (72), yang sempat dilaporkan hilang dari pemondokan Future Light Hotel Sektor 9 Misfalah sejak 15 Mei 2026 sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di kawasan Jabal Kuday pada 22 Mei 2026.
Menurut Hidayat, peristiwa tersebut harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh jemaah maupun petugas haji tentang pentingnya pengawasan dan komunikasi yang intensif, khususnya terhadap jemaah lansia yang rentan mengalami kelelahan maupun kebingungan arah.
“Ini sebagai pelajaran, sebagai ibrah, tentang pentingnya betul-betul selalu menjaga kesehatan, pentingnya betul-betul selalu mengkomunikasikan dengan keluarga, dengan jamaah, dengan karom, dengan karu,” ujarnya.




