Jaguar Land Rover Pangkas Ribuan Pekerja
Jaguar Land Rover (JLR) menyiapkan pengurangan tenaga kerja hingga sekitar 4.000 karyawan dalam dua tahun ke depan. Produsen otomotif asal Inggris itu mengambil langkah efisiensi di tengah tekanan bisnis yang datang dari berbagai arah, mulai dari persaingan kendaraan listrik asal China hingga dampak tarif Amerika Serikat.
Sebagian besar posisi yang terdampak berada di lingkungan kantor pusat JLR di Inggris. Perusahaan berharap proses pengurangan tenaga kerja dapat dilakukan secara bertahap dan sebanyak mungkin melalui skema pemutusan hubungan kerja secara sukarela.
CEO JLR PB Balaji mengatakan perusahaan memahami dampak kebijakan tersebut terhadap para pekerja. Karena itu, manajemen menyatakan proses pengurangan tenaga kerja akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi karyawan.
“Perusahaan berkomitmen untuk mendukung semua orang dengan penuh perhatian, keadilan, dan rasa hormat melalui proses pemutusan hubungan kerja,” ujar Balaji, dikutip dari BBC, Rabu (9/9/2026).
JLR telah membuka kesempatan bagi karyawan yang bersedia mengikuti program pengurangan tenaga kerja secara sukarela. Batas waktu pengajuan tersebut ditetapkan hingga 4 Oktober.
Apabila jumlah karyawan yang keluar melalui skema sukarela tidak memenuhi target, perusahaan akan melanjutkan pengurangan tenaga kerja melalui pemutusan hubungan kerja wajib. Pekerja yang terdampak disebut akan menerima pemberitahuan dari perusahaan dalam beberapa hari mendatang.
Melalui program efisiensi tersebut, JLR menargetkan penghematan biaya hingga 1,7 miliar poundsterling dalam periode dua tahun. Nilai tersebut setara sekitar Rp40,42 triliun jika dikonversikan menggunakan kurs yang tercantum dalam laporan.
Keputusan memangkas ribuan pekerja tidak terlepas dari tekanan yang dihadapi JLR dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan harus beradaptasi dengan perubahan industri otomotif global yang semakin cepat, khususnya pergeseran menuju kendaraan listrik dan meningkatnya persaingan dari produsen China.
Produsen mobil China kini semakin agresif memasuki pasar kendaraan listrik dengan menawarkan produk yang relatif kompetitif dari sisi harga dan teknologi. Perkembangan tersebut membuat persaingan di pasar otomotif global semakin ketat, termasuk bagi produsen kendaraan premium seperti JLR.
Tekanan terhadap bisnis JLR juga diperburuk oleh serangan siber yang terjadi pada tahun lalu. Gangguan tersebut berdampak terhadap kegiatan operasional perusahaan dan membuat sejumlah lini produksi harus dihentikan selama lebih dari satu bulan.
Selain persoalan operasional, JLR turut menghadapi dampak kebijakan tarif Amerika Serikat. Perusahaan tidak memiliki fasilitas produksi di AS sehingga struktur produksinya membuat dampak kebijakan perdagangan tersebut menjadi salah satu tantangan yang harus diperhitungkan.
Tekanan dari berbagai faktor tersebut tercermin dalam kinerja penjualan perusahaan. Dalam laporan keuangan tahunan hingga akhir Maret, JLR menyebut tarif AS dan serangan siber sebagai faktor yang berkontribusi terhadap penurunan penjualan.
Penjualan JLR tercatat turun sekitar 20 persen menjadi 22,9 miliar poundsterling. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan sekitar 29 miliar poundsterling yang dicatat perusahaan dua tahun sebelumnya.
Di tengah kondisi tersebut, JLR saat ini mempekerjakan sekitar 43.000 orang di seluruh dunia. Rencana pengurangan sekitar 4.000 posisi menjadi bagian dari upaya perusahaan menekan biaya sekaligus menyesuaikan struktur organisasi dengan kondisi bisnis yang dihadapi.
Langkah JLR menggambarkan tantangan yang semakin kompleks di industri otomotif global. Produsen kendaraan tidak hanya dituntut menghadapi perubahan teknologi menuju elektrifikasi, tetapi juga harus beradaptasi dengan persaingan harga, gangguan rantai pasok dan operasional, serangan siber, serta perubahan kebijakan perdagangan antarnegara.
Bagi JLR, pengurangan tenaga kerja menjadi salah satu strategi untuk menjaga efisiensi di tengah tekanan tersebut. Namun, efektivitas langkah tersebut akan bergantung pada kemampuan perusahaan memulihkan penjualan sekaligus mempertahankan daya saing produknya di tengah perubahan besar industri otomotif dunia.



