Investasi Kuartal I 2026 Diproyeksi Tembus Rp497 Triliun
Kinerja investasi nasional pada awal 2026 menunjukkan tren yang menguat di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya mereda. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM memproyeksikan realisasi penanaman modal sepanjang Triwulan I 2026 menembus Rp497 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menyebut capaian tersebut sebagai indikator positif yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
“Kami masih menunggu angka final, namun dengan perkembangan saat ini, target investasi kuartal pertama sebesar Rp497 triliun sangat mungkin tercapai,” ujarnya dalam rapat kerja bersama DPR RI.
Secara tahunan, angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sekitar 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini tidak hanya terlihat dari sisi nilai, tetapi juga dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja.
Rosan mengungkapkan, realisasi investasi tersebut diperkirakan mampu menyerap sekitar 627 ribu tenaga kerja. Jumlah ini meningkat dari capaian tahun lalu yang berada di kisaran 594 ribu orang.
“Penyerapan tenaga kerja naik sekitar 5,5 persen secara year-on-year, ini menjadi sinyal bahwa investasi memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kebijakan hilirisasi menjadi faktor kunci yang mendorong arus investasi masuk. Sektor ini bahkan menyumbang sekitar 30 persen dari total investasi nasional.
Dari sisi sektor usaha, industri logam dasar tercatat sebagai kontributor terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp67 triliun. Posisi berikutnya ditempati sektor transportasi dan logistik sebesar Rp54 triliun, disusul pertambangan Rp51 triliun.
Selain itu, sektor jasa termasuk pengembangan pusat data mencatat investasi Rp43 triliun, sementara sektor perumahan dan kawasan industri berkontribusi Rp36 triliun.
Secara wilayah, aktivitas investasi masih terkonsentrasi di sejumlah daerah utama. Jakarta memimpin dengan realisasi Rp74 triliun, diikuti Jawa Barat Rp72 triliun, Jawa Timur Rp38 triliun, Sulawesi Tengah Rp34 triliun, dan Banten Rp33 triliun.
Sementara itu, sumber penanaman modal asing tetap didominasi negara-negara mitra strategis seperti Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Rosan menilai, di tengah ketegangan geopolitik global, stabilitas nasional menjadi keunggulan kompetitif Indonesia dalam menarik investasi.
“Investor melihat Indonesia mampu menjaga stabilitas politik dan keamanan, serta menyediakan iklim usaha yang relatif kondusif,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran diplomasi ekonomi yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan kepercayaan pelaku usaha global.
“Presiden aktif menjelaskan langsung kondisi ekonomi Indonesia kepada investor dunia, sehingga memberikan keyakinan bahwa arah kebijakan kita jelas dan terukur,” pungkasnya.


