Influenza Subclade K di Jakarta Dipantau Lewat Surveilans
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperkuat pemantauan terhadap influenza A(H3N2) subclade K setelah varian tersebut terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jakarta.
Pemprov DKI memastikan kondisi tersebut terus dipantau melalui sistem surveilans di fasilitas pelayanan kesehatan. Pemerintah daerah juga meminta masyarakat tidak panik karena subclade K merupakan bagian dari influenza musiman, bukan virus baru.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Chico Hakim mengatakan data mengenai kasus di Jakarta mengacu pada laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Menurut dia, angka kasus harus dilihat sebagai data kumulatif sesuai periode pelaporan, bukan serta-merta menunjukkan lonjakan kasus dalam waktu singkat.
“Secara nasional Kemenkes masih mengategorikan aktivitas influenza rendah dan sesuai pola musiman. Subclade K bukan virus baru, melainkan bagian dari influenza musiman yang bermutasi,” kata Chico kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).
Laporan resmi Kemenkes per 19 September 2026 menyebut aktivitas influenza di Indonesia masih berada dalam kategori rendah. Pada minggu ke-36, proporsi influenza memang meningkat, tetapi secara keseluruhan situasinya masih dinilai terkendali.
Dalam laporan tersebut, Kemenkes mencatat total kasus subclade K sejak 2025 hingga minggu ke-36 2026 mencapai 184 kasus yang tersebar di 20 provinsi. Sementara khusus sepanjang minggu 1 hingga 36 tahun 2026, terdapat 22 kasus yang tersebar di enam provinsi.
Istilah “super flu” yang beredar di ruang publik merujuk pada subclade K dari influenza A(H3N2). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikannya sebagai virus influenza A(H3N2) musiman yang berkembang dari subclade J.2.4.
Untuk memperkuat deteksi dini, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menjalankan surveilans sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI). Sistem tersebut digunakan untuk memantau gejala infeksi pernapasan sekaligus karakteristik virus dan tingkat keparahannya.
“Yang sudah dan terus dilakukan Pemprov DKI, Dinas Kesehatan menjalankan surveilans sentinel ILI dan SARI di lima puskesmas tiap kota administrasi plus satu rumah sakit rujukan,” ujar Chico.
Pemantauan tersebut menjadi bagian dari sistem surveilans nasional. Kemenkes sendiri melakukan pengawasan influenza melalui jaringan fasilitas kesehatan sentinel untuk melihat perkembangan kasus, karakteristik virus, serta tingkat keparahannya.
Selain pengawasan melalui surveilans, fasilitas pelayanan kesehatan di Jakarta diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala influenza serta memperkuat penanganan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia.
Kelompok rentan seperti anak usia dini, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta juga menjadi perhatian dalam upaya pencegahan.
Chico mengatakan vaksin influenza tersedia di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit umum daerah (RSUD). Namun, vaksin tersebut belum menjadi bagian dari program imunisasi pemerintah sehingga masyarakat yang ingin mendapatkannya masih perlu membayar secara mandiri.
Ia juga menyebut belum terdapat bukti bahwa subclade K kebal terhadap vaksin influenza yang beredar.
“Tidak ada bukti subclade K kebal terhadap vaksin influenza yang beredar,” katanya.
Kemenkes dalam imbauannya juga mendorong masyarakat mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, terutama kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta. Masyarakat yang mengalami gejala flu juga dianjurkan beristirahat di rumah dan menggunakan masker untuk mengurangi risiko penularan.
Upaya pencegahan lainnya meliputi mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga kondisi tubuh, serta memastikan asupan makanan dan cairan tetap terpenuhi.
Anak yang sedang mengalami gejala sakit juga dianjurkan tidak mengikuti kegiatan sekolah hingga kondisinya membaik. Apabila gejala memburuk atau tidak kunjung membaik, masyarakat diminta segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan.
Kemenkes mencatat pada minggu ke-36 2026, kasus influenza paling banyak ditemukan pada kelompok usia 0-4 tahun. Namun, tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih dikategorikan rendah dan dinilai masih sesuai dengan pola musiman di Indonesia.
Chico menegaskan Pemprov DKI tetap mengambil langkah kewaspadaan tanpa ingin menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Pemprov DKI tidak menyepelekan 11 kasus itu, tapi juga tidak ingin masyarakat panik. Situasinya dikawal lewat surveilans, faskes yang siaga, dan pencegahan di tingkat keluarga,” tutur Chico.
Dengan sistem pemantauan yang terus berjalan, Pemprov DKI meminta masyarakat memahami informasi mengenai subclade K secara proporsional. Kewaspadaan tetap diperlukan, tetapi perkembangan kasus perlu dilihat berdasarkan data surveilans dan tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan.



