Bensin Dijual Online di Bali, Harga 1,5 Liter Tembus Rp200 Ribu
Keluhan mengenai sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di Bali ramai beredar di media sosial. Sejumlah unggahan memperlihatkan dugaan lonjakan harga bensin eceran di tengah antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Salah satu unggahan di Facebook menampilkan dua botol berukuran 1,5 liter yang disebut berisi bensin dan ditawarkan seharga Rp120.000. Sementara itu, video yang diunggah akun BANGSAONLINE SHOP menyoroti jasa titip (jastip) bensin dengan harga Rp100.000 untuk 1,5 liter.
Unggahan lain dari akun Pojoksatu bahkan menampilkan klaim harga bensin 1,5 liter mencapai Rp200.000. Namun, harga-harga tersebut masih perlu diverifikasi secara independen untuk memastikan lokasi, kondisi transaksi, dan kebenaran informasi yang beredar.
Di tengah keluhan tersebut, seorang warga Bali bernama Nanda mengaku terpaksa membeli bensin eceran seharga Rp100.000 untuk 1,5 liter karena harus berangkat kerja. Ia memilih membeli dengan harga tinggi lantaran khawatir menghabiskan waktu terlalu lama untuk mengantre di SPBU.
“Saya tidak punya pilihan. Saya harus berangkat kerja, dan antre di SPBU bisa memakan waktu berjam-jam, itu pun belum tentu dapat. Harga segitu sangat memberatkan, tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah seperti memeras rakyat kecil,” ujar Nanda.
Jika kondisi tersebut terjadi secara meluas, dampaknya berpotensi dirasakan oleh masyarakat yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk bekerja maupun menjalankan usaha. Kenaikan biaya memperoleh BBM juga dapat menambah beban operasional pengemudi transportasi dan pelaku usaha lainnya.
Sektor pariwisata Bali turut menjadi perhatian karena mobilitas wisatawan dan distribusi kebutuhan usaha bergantung pada ketersediaan transportasi. Meski demikian, besarnya dampak terhadap industri pariwisata masih memerlukan data dan konfirmasi dari pihak terkait.
Situasi ini mendorong munculnya desakan agar pemerintah dan pihak berwenang memastikan ketersediaan pasokan BBM serta menelusuri dugaan praktik penjualan dengan harga tidak wajar. Masyarakat juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai penyebab gangguan pasokan dan langkah penanganannya.
Hingga informasi dalam naskah sumber disusun, belum terdapat keterangan resmi yang dicantumkan mengenai penyebab dugaan kelangkaan maupun langkah konkret pemerintah untuk mengatasinya. Kepastian dari otoritas terkait diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan tidak semakin terbebani oleh ketidakpastian pasokan BBM.




