Harga Minyak Makin Tinggi, Jadi Tekanan bagi Rupiah
Pergerakan Rupiah pada awal perdagangan pekan kembali berada dalam tekanan. Nilai tukar mata uang Garuda melemah ke level Rp17.905 per Dolar AS pada Senin (5/10/2026), di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan harga minyak dunia.
Data Bloomberg menunjukkan Rupiah turun 23 poin atau 0,13 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap Rupiah muncul ketika harga minyak mentah global masih berada pada level tinggi. Minyak Brent untuk kontrak Desember 2026 tercatat US$101,90 per barel, meski turun 35 sen atau 0,34 persen.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November 2026 juga terkoreksi 62 sen atau 0,68 persen menjadi US$90,49 per barel.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tingginya harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia. Ketika biaya energi meningkat, kebutuhan pembayaran impor berpotensi ikut membesar dan pada akhirnya memengaruhi transaksi berjalan.
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan melihat risiko tersebut perlu diantisipasi apabila harga minyak tidak segera turun dari level tinggi.
Menurut Anthony, tekanan terhadap Rupiah juga tidak terlepas dari perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat. Ia menyebut The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persentase poin pada 16 September 2026.
Kombinasi tekanan eksternal tersebut, kata Anthony, telah membuat Rupiah sempat bergerak dari kisaran Rp17.700 hingga mendekati Rp18.000 per Dolar AS.
“Dampaknya langsung terasa pada Rupiah, yang sempat turun dari Rp17.700 menjadi sekitar Rp18.000 per Dolar AS,” ujar Anthony dalam risetnya.
Anthony kemudian mengingatkan potensi tekanan yang lebih besar apabila harga minyak bertahan di atas US$100 per barel hingga penghujung tahun.
“Kalau harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel sampai akhir tahun, defisit transaksi berjalan akan meningkat, dan Rupiah siap-siap mendekati Rp19.000 per dolar AS, bahkan bisa lebih rendah,” tandasnya.
Perkembangan harga minyak dan kebijakan suku bunga The Fed menjadi sejumlah faktor eksternal yang perlu dicermati pasar. Bagi Rupiah, bertahannya harga energi pada level tinggi berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar melalui meningkatnya kebutuhan pembiayaan impor energi.



