BPS: Inflasi Yogyakarta Tembus 0,46 Persen pada Juni

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta Joko Prayitno. (H. Husaini)

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat inflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,46 persen pada Juni 2026. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif transportasi menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan inflasi pada periode tersebut.

Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, mengatakan kelompok transportasi memberikan andil inflasi terbesar, terutama akibat penyesuaian harga BBM yang berdampak pada tarif sejumlah moda transportasi.

“Komoditas yang mengalami inflasi cukup besar di antaranya bensin dengan andil sekitar 0,29 persen. Selain itu, tarif angkutan kereta api dan angkutan udara juga mengalami kenaikan seiring penyesuaian harga BBM,” ujar Joko.

Di sisi lain, sejumlah komoditas pangan justru mengalami penurunan harga sehingga membantu menahan laju inflasi. Cabai merah dan cabai rawit tercatat turun seiring musim panen, sedangkan bawang merah dan bawang putih mengalami kenaikan harga.

Selain BBM, harga pelumas kendaraan juga mengalami kenaikan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Meski inflasi bulanan meningkat, BPS memastikan inflasi tahunan (year on year/yoy) Kota Yogyakarta masih berada dalam kisaran target pemerintah, yakni sebesar 3,18 persen atau masih di bawah batas atas target 3,5 persen.

“Saat ini inflasi year on year berada di angka 3,18 persen, sehingga masih dalam batas aman dan terkendali,” kata Joko.

Secara kumulatif sejak Januari hingga Juni 2026, inflasi Kota Yogyakarta tercatat mencapai 1,57 persen. BPS berharap laju inflasi hingga akhir tahun tetap terjaga meski masih dibayangi faktor eksternal, terutama pergerakan harga BBM.

“Harapannya inflasi sampai akhir tahun tetap terjaga di bawah batas atas target, meskipun faktor eksternal seperti harga bahan bakar minyak masih sangat berpengaruh,” jelasnya.

BPS juga mengingatkan adanya potensi kenaikan harga pada bulan-bulan mendatang seiring dimulainya tahun ajaran baru. Biaya pendidikan, buku, perlengkapan sekolah, hingga seragam diperkirakan menjadi komponen yang berpotensi mendorong inflasi.

Selain itu, harga daging sapi mulai menunjukkan tren kenaikan pasca-Iduladha. Meski dampaknya terhadap inflasi Yogyakarta masih terbatas karena tingkat konsumsi masyarakat relatif lebih kecil dibandingkan daging ayam dan telur, BPS tetap meminta agar perkembangan harga komoditas tersebut terus diantisipasi.

Di sisi lain, sektor perhotelan menunjukkan kinerja positif. Tingkat okupansi hotel bintang pada Mei 2026 meningkat menjadi 59,19 persen dari 58,28 persen pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan tersebut dipengaruhi banyaknya hari libur nasional dan cuti bersama, serta diperkirakan masih berlanjut selama musim libur sekolah.

Tutup