Asing Jual Rp3,19 Triliun, IHSG Terkoreksi 4,55 Persen

Ilustrasi IHSG.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi emiten yang paling banyak dilepas investor asing sepanjang perdagangan pekan lalu. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai jual bersih (net sell) asing pada saham BMRI mencapai Rp951,08 miliar.

Seiring derasnya aksi jual tersebut, harga saham BMRI turun 7,42 persen dalam sepekan dan ditutup di level Rp3.990 per saham pada perdagangan Jumat (26/6/2026).

Tekanan jual investor asing tidak hanya terjadi pada BMRI. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga mencatat net sell sebesar Rp405,35 miliar dengan harga saham turun 2,05 persen menjadi Rp2.870 per saham.

Aksi jual juga menyasar sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya, seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mencatat net sell Rp272,81 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp219,25 miliar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp202,21 miliar, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp199,07 miliar.

Selain itu, investor asing juga melepas saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).

Secara keseluruhan, investor asing membukukan net sell sebesar Rp3,19 triliun di pasar reguler selama sepekan.

Derasnya aksi jual tersebut ikut menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks ditutup di level 5.896,13 pada Jumat (26/6/2026), melemah 1,72 persen dalam sehari dan terkoreksi 4,55 persen sepanjang pekan.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi setelah gagal menembus level resistance 6.100. Area support terdekat diperkirakan berada di kisaran 5.730–5.850, sedangkan resistance berada pada rentang 6.000–6.130.

Dari sisi sentimen global, pasar masih dibayangi meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS.

Di sisi lain, investor juga mulai mencermati sejumlah agenda penawaran umum perdana saham (IPO) pada awal Juli yang diperkirakan akan menyerap sebagian likuiditas pasar dalam jangka pendek.

Disclaimer: Informasi ini bukan merupakan ajakan membeli atau menjual saham. Seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Tutup