CEO Honda Minta Maaf Usai Perusahaan Merugi
CEO Honda Toshihiro Mibe mengakui perusahaan salah membaca arah perkembangan pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV), yang berujung pada kerugian tahunan pertama Honda dalam hampir tujuh dekade.
Pengakuan tersebut disampaikan Mibe dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) setelah Honda membukukan rugi bersih akibat beban restrukturisasi bisnis kendaraan listrik yang mencapai lebih dari 9 miliar dolar AS serta meningkatnya tekanan persaingan dari produsen otomotif China.
“Saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada para pemegang saham atas kerugian bersih yang kami alami pada tahun fiskal lalu,” ujar Mibe.
Menurut Mibe, Honda terlalu optimistis terhadap pertumbuhan pasar mobil listrik, khususnya di Amerika Serikat. Kenyataannya, permintaan kendaraan listrik berkembang lebih lambat dari proyeksi perusahaan sehingga Honda harus menurunkan nilai aset bisnis EV.
Ia menegaskan, mempertahankan target penjualan EV yang lama justru berpotensi membuat bisnis otomotif Honda terus mengalami kerugian selama lima hingga tujuh tahun ke depan.
“Jika kami tetap memaksakan target penjualan EV sebelumnya, bisnis otomotif Honda bisa terus merugi selama lima hingga tujuh tahun,” katanya.
Strategi tersebut menuai kritik dari sejumlah mantan petinggi Honda. Mereka menilai perusahaan terlalu agresif berinvestasi di kendaraan listrik, namun kurang memberi perhatian terhadap pasar China yang kini menjadi pusat pertumbuhan industri otomotif dunia.
Di tengah tekanan tersebut, bisnis sepeda motor masih menjadi penopang utama kinerja Honda. Sementara itu, perusahaan mulai mengubah strategi dengan membuka peluang kerja sama bersama Nissan Motor dan Mitsubishi Motors dalam pengembangan teknologi kendaraan generasi berikutnya.
Meski menghadapi kerugian dan kritik dari sejumlah pihak, mayoritas pemegang saham tetap memberikan dukungan kepada Toshihiro Mibe. Mereka menyetujui pengangkatannya kembali sebagai anggota dewan direksi dalam rapat tahunan perusahaan.



