APBN Hingga Mei Catat Defisit 0,70 Persen dari PDB

Menteri Keuangan, Purbaya.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 masih mencatatkan defisit sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir April 2026 yang tercatat sebesar Rp164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan defisit terjadi karena realisasi belanja negara masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan yang berhasil dihimpun pemerintah sepanjang lima bulan pertama tahun ini.

Berdasarkan data APBN KiTa, realisasi belanja negara hingga Mei 2026 mencapai Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari pagu APBN sebesar Rp3.842,7 triliun. Sementara itu, pendapatan negara tercatat sebesar Rp1.185 triliun.

Meski masih mengalami defisit, kinerja pendapatan negara menunjukkan tren positif. Hingga Mei 2026, pendapatan negara tumbuh 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Kinerja pendapatan negara masih sangat baik dan menunjukkan pertumbuhan yang kuat dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat (5/6/2026).

Peningkatan pendapatan terutama ditopang oleh penerimaan perpajakan yang mencapai Rp958,2 triliun atau tumbuh 18,9 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak mencapai Rp834,4 triliun atau naik 22,1 persen, sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat Rp123,8 triliun atau meningkat 0,7 persen.

Selain perpajakan, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga memberikan kontribusi signifikan dengan realisasi mencapai Rp226,4 triliun. Angka tersebut tumbuh 19,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, penerimaan hibah tercatat sebesar Rp400 miliar atau meningkat 1,6 persen secara tahunan. Kinerja tersebut turut memperkuat struktur pendapatan negara di tengah tingginya kebutuhan belanja pemerintah.

Purbaya menilai kondisi fiskal saat ini tetap terjaga meskipun APBN berada dalam posisi defisit. Hal itu terlihat dari keseimbangan primer yang kembali mencatatkan surplus sebesar Rp58,6 triliun.

“Keseimbangan primer sekarang mencapai Rp58,6 triliun dan sudah kembali positif. Artinya, anggaran kita saat ini lebih berkesinambungan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya,” ujarnya.

Menurutnya, surplus keseimbangan primer menjadi indikator penting bahwa pengelolaan fiskal pemerintah masih berada pada jalur yang sehat. Kondisi tersebut juga memberikan ruang yang lebih baik bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung berbagai program prioritas nasional sepanjang 2026.

Berita Lainnya

Tutup